Debat Capres AS, Clinton: Muslim Bagian dari Rakyat AS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Donald Trump VS  Hillary Clinton. REUTERS/Scott Audette (kiri), Javier Galeano (kanan)

    Donald Trump VS Hillary Clinton. REUTERS/Scott Audette (kiri), Javier Galeano (kanan)

    TEMPO.CO,ST.LOUIS - Topik Islamofobia menjadi salah satu debat sengit dalam debat calon presiden kedua di kedua di Washington University, St. Louis, Louisiana, Ahad malam waktu setempat. Seorang perempuan Muslim yang hadir dalam debat menanyakan kepada kedua kandidat: Donald Trump dari Republik dan Hillary Clinton dari Demokrat, untuk membantu warga Muslim terkait Islamofobia setelah pemilu berakhir.

    Menjawab pertanyaan itu, Trump mengakui bahwa Islamofobia ada dan “Memalukan.” Tapi dia menyebut bahwa ini adalah reaksi dari berbagai terror yang dilakukan oleh kelompok radikal Islam.

    Ia menyebut teror di San Bernardino sebagai contohnya. Trump kemudian menuding Presiden Barack Obama dan Clinton yang dianggal gagal karena menolak menyebut kelompok radikal Islam sebagai pelakunya.

    Clinton yang menjawab setelah Trump, menggunakan pendekatan berbeda. Ia menegaskan bahwa warga Muslim adalah bagian dari Amerika. Ia menyebut Kapten Khan yang tewas dalam invasi Irak untuk membela negara.

    Clinton juga menyebut Muhammad Ali, juara dunia tinju sekaligus warga kebanggaan AS. “Bagi saya, cara Trump menyebut warga Muslim adalah salah. Saya ingin seluruh warga Muslim seperti Anda dan leluarga merasa menjadi bagian dari rakyat Amerika,” ujar Clinton.

    Saat moderator Martha Raddatz menanyakan apakah Trump akan tetap melarang warga Muslim amsuk AS, Trump semula mengabaikan pertanyaan itu. Dia justru mencecar Clinton dengan membahas mending Kapten Khan.

    Trump menyebut Khan sebagai pahlawan Amerika. “Jika saya presiden, Khan mungkin masih hidup karena saya tidak mendukung perang Irak,” tutur Trump, meski sejumlah media menunjukkan ia mendukung Perang Irak pada periode 2000-an.

    CNN | SYDNEY MORNING HERALD | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.