Enam Sindikat Yakuza Bobol ATM Senilai Rp 226,4 Miliar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Yakuza. Grind365.com

    Ilustrasi Yakuza. Grind365.com

    TEMPO.CO, Tokyo - Sedikitnya enam sindikat yakuza jadi dalang  kasus pembobolan ATM sebesar 1,8 miliar yen atau Rp 226,4 miliar pada Mei lalu di minimarket di 17 wilayah di Jepang. Para yakuza itu bekerja sama dengan hacker (peretas) luar negeri.

    Dilansir Asia One, sindikat yakuza itu adalah Yamaguchi-gumi yang berbasis di Kobe, Kobe Yamaguchi-gumi, Inagawa di Kanto, Sumiyoshi di Tokyo, Dojin Kyushu, dan Goda di Yamaguchi di ujung barat Honshu. Sejak Agustus lalu, 92 orang ditahan oleh kepolisian dalam kasus pembobolan ATM ini.

    Seorang anggota kepolisian mengatakan para Yakuza itu melakukan aksinya menggunakan kartu ATM palsu. Kartu yang digunakan berisi informasi keamanan depositor di Bank Afrika Selatan. Namun nomor identifikasi pribadi (PIN) mereka dinonaktifkan.

    Menurut salah seorang tersangka yakuza, pembobolan ATM sangat mudah dilakukan karena hanya menekan empat angka yang merupakan PIN. PIN itu, ujar dia, didapat setelah sistem komputer di bank dibajak oleh hacker dari luar Jepang.

    Kasus ini terbongkar pertama kali pada 24 Agustus lalu setelah seorang anggota senior dan seorang anggota berpangkat rendah dari kelompok Sapporo, yakuza dari kelompok yang berafiliasi dengan Yamaguchi-gumi, tertangkap di Tokyo.

    Pada 15 Mei lalu sekitar pukul 04.00, mereka berkumpul dengan beberapa anggota yakuza lain di Tokyo. Masing-masing anggota memperoleh sepuluh kartu kredit dan diinstruksikan untuk melakukan penarikan sebesar 100 ribu yen tiap kartu. Diketahui, modus serupa juga terjadi di Prefektur Niigaa dan Prefektur Saga.

    DENIS RANTIZA | HUSEIN | ASIA ONE

    Baca:
    Thailand Deportasi Joshua Wong Setelah 12 Jam Ditahan
    Sembilan Wanita Muslim Terkaya di Dunia


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.