Obama Kritik kebijakan Perangi Narkoba, Duterte: Go to Hell!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, melakukan

    Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, melakukan "fist bump", dalam kunjungan ke kamp militer Capinpin, Tanay, Rizal, Filipina, 24 Agustus 2016. REUTERS/Erik De Castro

    TEMPO.COManila - Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengungkapkan kekesalannya kepada Presiden Barack Obama lantaran Amerika Serikat mengkritik dan tidak mau mendukungnya dalam menanggulangi masalah narkoba yang sudah kronis.

    "Alih-alih membantu kami, yang pertama kali menyerang adalah Departemen Luar Negeri. Jadi Anda bisa pergi ke neraka, Obama. Anda bisa pergi ke neraka," kata Duterte, seperti dilansir Reuters, Selasa, 4 Oktober 2016.

    Duterte, dalam pidatonya, mengungkapkan bahwa dia juga tidak peduli akan penolakan Amerika untuk menjual senjata ke negaranya. Sebab, Rusia dan Cina telah menjamin akan menjadi pemasok senjata ke Filipina.

    "Jika Anda tidak ingin menjual senjata, saya akan pergi ke Rusia. Saya mengirim para jenderal ke Rusia dan Rusia mengatakan 'Jangan khawatir, kami memiliki semua yang Anda butuhkan, kami akan memberikannya kepada Anda'," tuturnya.

    Duterte melanjutkan, "Untuk Cina, mereka mengatakan 'Hanya datang, tanda tangani, dan semua akan dikirim'."

    Amerika sebelumnya mengkritik kebijakan Filipina terkait dengan pemberantasan narkoba. Pasalnya, cara Duterte memerangi narkoba memicu tingginya angka kematian. Kritik Negeri Abang Sam itu pun berujung penolakan memasok senjata ke Filipina.

    Selain Amerika, Uni Eropa memberi kecaman serupa terhadap Filipina. Duterte   membalas kritik tersebut dalam pidatonya beberapa waktu lalu. Dia menyarankan Uni Eropa memilih 'api penyucian'. "Karena neraka sudah penuh," katanya.

    REUTERS | FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.