Presiden Duterte Mohon Maaf kepada Yahudi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah orang melihat foto-foto korban kamp konsentrasi dan pemusnahan Nazi Auschwitz-Birkenau di Oswiecim, Polandia, 27 Januari 2016. Sekitar 11 ribu orang Yahudi menjadi korban kamp konsentrasi Nazi atau Holocaust. REUTERS/Kacper Pempel

    Sejumlah orang melihat foto-foto korban kamp konsentrasi dan pemusnahan Nazi Auschwitz-Birkenau di Oswiecim, Polandia, 27 Januari 2016. Sekitar 11 ribu orang Yahudi menjadi korban kamp konsentrasi Nazi atau Holocaust. REUTERS/Kacper Pempel

    TEMPO.COManila - Hati-hati dengan mulutmu. Nasihat ini sepertinya mengena pada Presiden Filipina Rodrigo Duterte yang akhirnya memohon maaf kepada Yahudi atas pernyataannya yang membandingkan dirinya dengan Adolf Hilter sehubungan dengan jutaan orang tewas dalam memerangi kejahatan narkoba di Filipina. 

    "Meski saya sungguh tidak mengatakan sesuatu yang salah, lebih baik mereka tidak mengutak-atik memori ini, jadi saya memohon maaf kepada warga Yahudi," kata Presiden Duterte seperti dikutip Channel News Asia, 3 Oktober 2016. 

    Baca: Alasan Agama, Penumpang United Airlines Diminta Ganti Kursi  

    Sekalipun telah memohon maaf kepada Yahudi, Presiden Duterte menjelaskan, dia tidak melakukan kesalahan dengan kebijakannya membunuh jutaan orang yang terlibat dalam kejahatan narkoba.

    Sebelumnya, Presiden Duterte menyamakan dirinya dengan pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler. Hanya, kata Presiden Duterte, Hitler membantai orang-orang yang tidak berdosa. Sedangkan dirinya membantai pengedar narkoba yang merusak generasi penerus bangsa.

    Baca: Dimas Kanjeng Blakblakan ke Anggota DPR, Polisi: Bullshit!

    Pernyataan Presiden Duterte yang menyamakan perang melawan narkoba di negerinya dengan tragedi Holocaust yang menewaskan jutaan Yahudi di Eropa mendapat kecaman dari beberapa komunitas Yahudi yang berbasis di Amerika Serikat. "Duterte berutang permintaan maaf terhadap korban Holocaust untuk retorikanya yang menjijikkan," kata Abraham Cooper, rabi dari Simon Wiesenthal Center yang berbasis di Amerika Serikat.

    Presiden Duterte, 71 tahun, menuai banyak kritik atas kebijakannya dalam memerangi narkoba sejak menjabat kursi presiden pada 30 Juni lalu. Lebih dari 3.000 orang tewas dalam operasi memerangi narkoba di Filipina dalam tempo sekitar tiga bulan terakhir. 

    CHANNEL NEWS ASIA | BBC | MARIA RITA
     

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.