Kolombia dan FARC Siap Teken Perdamaian Bersejarah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • David, Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) bermain sepak bola saat berada di sebuah kamp dekat El Diamante di Yari Plains, Kolombia, September 19, 2016. REUTERS/John Vizcaino

    David, Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) bermain sepak bola saat berada di sebuah kamp dekat El Diamante di Yari Plains, Kolombia, September 19, 2016. REUTERS/John Vizcaino

    TEMPO.CO, Catragena - Gerakan pemberontak terbesar Kolombia, Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia (FARC), siap melakukan penandatanganan perdamaian yang bersejarah dengan pemerintah, Senin 26 September 2016 waktu setempat. Kesepakatan ini bertujuan mengakhiri konflik bersenjata selama 52 tahun dan menewaskan 220 ribu orang.

    Pakta perdamaian itu akan diteken oleh Presiden Kolombia Juan Manuel Santo dan salah seorang komandan pemberontak yang dikenal dengan panggilan Timochenko di kota Cartagena.

    Menurut laporan Al Jazeera, Senin, perdamaian bersejarah itu bakal dihadiri oleh 15 presiden negara-negara Amerika Latin, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon, dan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry. "Mereka akan menjadi saksi acara penandatanganan bersejarah itu," Al Jazeera melaporkan.

    Selain itu, lebih dari 250 tetamu undangan bakal hadir mengenakan kemeja warna putih sebagai simbol perdamaian. Adapaun Santos akan menandatangani kesepakatan perdamaian pada halaman 297 dengan pulpen yang terbuat dari material bekas perang.

    Upacara penandatangan yang dihadir sejumlah pemimpin negara itu tidak menutup kemungkinan adanya penolakan terhadap materi kesepakatan. Sebab Kolombia masih memiliki kesempatan menerima atau menolak hingga 2 Oktober 2016 saat negeri itu melakukan referendum.

    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.