Polisi Tembak Pria Kulit Hitam, North Carolina Darurat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah warga berkumpul di lokasi tewasnya Walter Scott di North Charleston, South Carolina, Amerika Serikat, 8 April 2015. Kasus pembunuhan Scott telah dilimpahkan ke pengadilan. Dalam dokumen pengadilan South Carolina, Slager didakwa melakukan pembunuhan dan terancam hukuman penjara selama seumur hidup atau hukuman mati. AP/Chuck Burton

    Sejumlah warga berkumpul di lokasi tewasnya Walter Scott di North Charleston, South Carolina, Amerika Serikat, 8 April 2015. Kasus pembunuhan Scott telah dilimpahkan ke pengadilan. Dalam dokumen pengadilan South Carolina, Slager didakwa melakukan pembunuhan dan terancam hukuman penjara selama seumur hidup atau hukuman mati. AP/Chuck Burton

    TEMPO.CO, New York - Kerusuhan rasial memasuki hari kedua di Charlotte, North Carolina, Amerika Serikat, sehingga memaksa gubernur negara bagian ini memberlakukan keadaan darurat di semua wilayah itu. "Saya mengumumkan perintah darurat dan mengerahkan Pasukan Pengawal Nasional untuk mengembalikan ketertiban," kata Gubernur Pat McCrory pada Rabu malam 21 September 2016.

    Kerusuhan itu meletus setelah protes terhadap insiden seorang pria kulit hitam, Keith Lamont Scott yang ditembak mati oleh polisi pada Selasa 20 September 2016. Aksi protes tersebut berubah menjadi kerusuhan sehingga menyebabkan seorang demonstran terkena tembakan.

    Tapi polisi setempat mengklaim, tembakan yang menyebabkan seorang demonstran terluka parah, diyakini dilepaskan oleh publik, bukan polisi.

    Pada awalnya aksi protes berjalan dengan damai, para pemrotes  berkumpul di Charlotte untuk menuntut keadilan bagi nasib Keith Lamont Scoott, 43 tahun, yang ditembak ketika sedang membaca buku sambil menunggu anaknya pulang dari sekolah.

    Namun tindakan polisi anti huru-hara melepaskan gas air mata menyebabkan demonstrasi itu menjadi kerusuhan dengan demonstran bertindak ganas menghancurkan properti publik termasuk kendaraan polisi.

    Pasukan keamanan juga menggunakan peluru karet untuk membubarkan protes, tetapi keadaan bertambah buruk ketika peserta demonstrasi terus bertambah.

    Sepanjang Rabu malam itu sebanyak 16 anggota polisi dan beberapa demonstran terluka dalam insiden itu, tapi poisi belum menangkap satu orang pun.

    BBC|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.