Rusia Bantah Terlibat Penjualan Peralatan Militer Ke Irak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Colin Powell mengatakan bahwa Russia telah memberi izin kepada Amerika Serikat untuk melakukan penelitian terhadap dugaan penjualan senjata dan perlengkapan militer canggih ke Irak. "Kami telah memberikan kepada mereka beberapa informasi terbaru dan segar tentang kepedulian kami,"kata Powell sambil menambahkan bahwa di telah bicara dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Igor Ivanov setiap harinya untuk memibcarakan masalah ini. Menurut Powell, Ivanov telah meyakinkannya bahwa informasi yang diterima Ivanov sangat penting dan mereka akan segera menyelidikinya. Powell menegaskan bahwa mereka tidak ingin masalah ini akan menghambat hubungan kedua negara ini. Saat ini, kata dia, Russia sedang berusaha keras untuk menjalani hubungan ini dan mereka akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pemerintah Russia, yang saat ini dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin, membantah dugaan bahwa mereka telah menjulan senjata secara illegal kepada Iraq. Washington telah menuduh Moscow telah gagal melakukan pengawasan dan kontrol terhadap perusahaan yang diduga telah menjual kacamata untuk malam hari (night-vision goggles), senjata anti tank (anti-tank weapons) dan perangkat elektronik (electronic jamming tools) kepada Irak. Peralatan ini diduga membuat ancaman bagi pasukan koalisi. Menurut pejabat pemerintah Amerika penjualan ini dilakukan sejak bulan Februari dan diduga salah seorang teknisi asal Russia telah bergabung dengan Irak ketika perang dimulai minggu lalu. Dua perusahaan yang diduga terlibat dalam transaksi tersebut adalah Aviakonversiya dan KBP Tula. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Russia, Igor Ivanov dalam wawancaranya dengan TV CNN membahas mengenai tuduhan Amerika Serikat bahwa Russia telah menjual peralatan militer canggih kepada Irak termasuk kacamata, misil anti tank dan sistem pemandu global (global positioning system jammers). Amerika Serikat sejak Oktober akhir lalu, secara berulang-ulang membangkitkan isu ini, kata Ivanov, sehingga Presiden Russia Vladimir Putin telah memerintahkan untuk mempelajari dengan serius dan hati-hati dokumen yang diberikan Amerika. Pemerintah Russia juga telah menemukan bahwa tidak ada peralatan - militer atau yang lainnya- yang dikapalan ke Irak oleh Russia. Menurut Ivanov, kedua perusahaan yang diduga terlibat itu juga telah menyangkal keterlibatan mereka. Materi-materi tambahan yang diberikan oleh Amerika Serikat juga akan dipelajari dan jika ada seseorang yang terbukti melanggar sanksi tersebut maka akan dikenakan hukuman sesuai dengan hukum Russia. "Kami sangat serius dengan usaha Ameirka Serikat untuk menarik Russia kedalam perang Irak dengan membuat tuduhan tak beralasan," ujar Ivanov. Seperti diketahui Diplomat senior Amerika Serikat mengatakan bahwa Amerika mempunyai informasi sangat besar mengenai penolakan Moskow ini. Dengan tidak mau disebutkan namanya, diplomat ini mengatakan bahwa akhirnya Aviakonversiya telah melakukan perjanjian dengan Baghdad dan menempatkan pegawainya untuk membantu peralatan di Irak. Dewi Retno --- TNR

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.