Ini Kekaguman Duta Besar Palestina terhadap Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Duta Besar Palestina Fariz N. Mehdawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Duta Besar Palestina Fariz N. Mehdawi. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Duta Besar Palestina untuk Indonesia Fariz Mehdawi mengapresiasi sistem tata pemerintahan di Indonesia. Menurut dia, demokrasi yang terjalin saat ini begitu stabil. Kestabilan itu ia lihat setiap pergantian pemimpin yang berlangsung cukup dinamis.

    “Ini sangat menarik bagaimana transisi itu terjadi di pembangunan demokrasi,” ujar Fariz kepada Tempo di rumah dinasnya, Jumat malam, 16 September 2016.  Fariz telah 10 tahun bertugas di Indonesia. Kini dia mendapat pos baru di Beijing, Cina.

    Fariz mengakui mengamati pergantian pemerintahan di Indonesia setelah rezim Presiden Soeharto jatuh. Ia menilai pergantian setelah era itu berlangsung cepat dan stabil. Selain itu juga menjadi catatan sejarah bagi Indonesia.

    Fariz mengenal Indonesia dengan sudut pandang yang berbeda. Kekuatan di Tanah Air tidak terfokus hanya pada satu lembaga. Ia menyebut terkadang lembaga eksekutif memiliki kekuatan untuk mengontrol bangsa. Namun kekuatan itu tidak sepenuhnya dimiliki eksekutif.

    Parlemen di Indonesia pun memiliki sebagian kekuatan. Termasuk pula media massa yang menjadi mediator penyampai aspirasi atau kebijakan. Menurut Fariz, kekuatan Indonesia berasal dari keseimbangan beberapa elemen dari mulai eksekutif hingga peran media.

    Fariz mengaku banyak mengunjungi wilayah Indonesia. Dari satu wilayah ke wilayah lain menemukan keunikan budaya. Ia mecontohkan seperti Kalimantan, Bali, Yogyakarta, hingga Sumatera.

    Bagi dia, menjadi diplomat harus dekat dengan masyarakat. Kedekatan itu ia bangun dengan turun membaur bersama masyarakat. Dan kedekatan itu membuatnya galau karena harus meninggalkan Indonesia.  “Berpindah dari Indonesia adalah tidak mudah,” katanya.

    Fariz menilai masyarakat Indonesia telah memberikan kesan yang melekat. Terlebih peran dia sebagai duta besar hingga satu dekade. Salah satu kesan yang diberikan orang Indonesia adalah kepedulian yang lebih terhadap isu Palestina.

    Fariz menaruh apresiasi tinggi terhadap dukungan masyarakat kepada rakyat Palestina dari serangan Israel. Bahkan ia merespons sangat baik ketika isu Palestina diusung di kampanye calon presiden pada 2014 lalu.

    Mengenakan baju batik, Fariz pun memuji budaya Indonesia. Pria yang suka jalan-jalan itu mengatakan ada produk-produk budaya hingga kuliner di Nusantara yang disukai. Misalnya ketika ia mengekspresikan tarian Bali sebagai tarian tradisional yang syarat dengan spiritual. Sama halnya dengan budaya Jawa dengan tarian yang ia anggap sakral.

    Fariz memiliki cara unik mengenal masyarakat Indonesia. Suatu pekan, ia menyambangi Taman Suropati yang terletak tak jauh dari rumah dinasnya. Tanpa pengawalan, ia membaur dengan pengunjung. Para pengunjung di Taman Suropati kala itu juga tidak mengenali siapa itu Fariz.

    Fariz menceritakan ia mendapat perlakuan ramah dari masyarakat. Bahkan ia mencicipi martabak asin bersama mereka di Taman Suropati. “Murah sekali harganya,” kata dia.

    Bagi Fariz, mengenal kehidupan seseorang itu tidak bisa hanya di permukaan. Serupa dengan laut, permukaan air laut akan tampak keruh. Berbeda ketika seseorang menyelam hingga sampai dasar laut, maka akan menemukan kejernihan. Begitulah yang dilakukan Fariz untuk mengenali masyarakat khususnya di Indonesia.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.