Thailand Umumkan Jumlah Penderita Zika Sebanyak 200 Orang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Luana Vieira, bayi yang lahir dengan microcephaly bereaksi saat diberikan stimulus oleh dokter physiotherapis di pusat rehabilitasi Altino Ventura, Recife, Brasil, 3 Februari 2016. Bayi yang lahir dengan microcephaly dapat menderitar dengan perkembangan yang mungkin disebabkan oleh virus Zika. REUTERS/Ueslei Marcelino

    Luana Vieira, bayi yang lahir dengan microcephaly bereaksi saat diberikan stimulus oleh dokter physiotherapis di pusat rehabilitasi Altino Ventura, Recife, Brasil, 3 Februari 2016. Bayi yang lahir dengan microcephaly dapat menderitar dengan perkembangan yang mungkin disebabkan oleh virus Zika. REUTERS/Ueslei Marcelino

    TEMPO.CO, Bangkok - Thailand mencatat sekitar 200 penderita Zika sejak Januari lalu, kata pernyataan Kementerian Kesehatan, Selasa, 13 September 2016. Ini untuk pertama kali Kementerian Kesehatan Thailand memastikan jumlah penderita Zika pada tahun ini. Hal tersebut menyebabkan Thailand menjadi salah satu negara dengan jumlah terbesar penderita penyakit itu di Asia Tenggara.

    Pengumuman tersebut keluar sehari setelah pengamat kesehatan mendesak pemerintah Thailand lebih terbuka dalam melaporkan ancaman Zika kepada masyarakat setelah pejabat kementerian kesehatan menyepelekan ancaman penyebab infeksi virus yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti tersebut.

    Pejabat Kementerian Kesehatan menyatakan keprihatinan bahwa mengungkapkan informasi Zika terkait dengan cacat lahir parah dapat merusak industri pariwisata, yang selama ini menguntungkan Thailand.

    "Sejak Januari kami telah mencatat sekitar 200 kasus dan lebih dari tiga pekan yang lalu kami telah mengonfirmasi sekitar 20 kasus baru per pekan," kata juru bicara Kementerian Kesehatan Masyarakat Suwannachai Wattanayingcharoenchai kepada Kantor Berita Reuters. "Jumlah kasusnya stabil," katanya tanpa memberikan keterangan lebih lanjut.

    Negara kota Singapura pertama kali melaporkan pasien terinfeksi Zika pada 27 Agustus dan sejak saat itu jumlah korban lebih dari 300 orang. Malaysia dan Filipina juga melaporkan kasus tersebut. Virus tersebut pertama kali teridentifikasi di Uganda pada 1947.

    Virus yang memengaruhi beberapa wilayah di Amerika Latin dan Karibia menjalar di Asia selama beberapa tahun. Asal-muasal penyebaran virus tersebut di Asia berbeda dengan di Amerika, kata peneliti. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kekebalan penduduk terhadap Zika di Asia masih belum diketahui.

    Suwannachai mengimbau masyarakat tidak panik dan berulang kali menyampaikan pesan yang bertujuan untuk menenangkan wisatawan.

    "Orang tidak boleh takut mengunjungi beberapa provinsi yang terkena virus Zika," kata Suwannachai.

    Infeksi Zika pada perempuan hamil diketahui dapat menyebabkan mikrosefalus, yakni cacat kelahiran parah karena kepala dan otak yang tidak sesuai ukuran, demikian pula otak yang tidak normal.

    Keterkaitan antara Zika dan mikrosefalus pertama kali terjadi tahun lalu di Brazil yang telah mengonfirmasikan lebih dari 1.800 kasus mikrosefalus.

    Pemerintah Thailand belum menemukan kasus mikrosefalus yang terkait dengan Zika dan pihaknya memantau dua puluhan perempuan hamil serta enam orang yang melakukan persalinan tanpa mengalami komplikasi, demikian pernyataan Kementerian Kesehatan.

    Pada orang dewasa, infeksi Zika juga berkaitan dengan sindrom langka neurologi yang dikenal dengan Guillain Barre demikian juga dengan gejala neurologi lain.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.