Tanda Salib Darah Di Konsulat AS Di Selandia Baru

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Beragam aksi diwujudkan oleh masyarakat dunia untuk menunjukkan simpati kepada rakyat Irak dan sekaligus menentang agresi militer Amerika dan sekutunya terhadap Irak. Salah satunya adalah aksi unik yang dilakukan oleh seorang pendeta Katolik Dominikan dan seorang pekerja Katolik, yang menumpahkan darah mereka di lantai kantor Konsulat Amerika di kota Auckland Selandia Baru, Rabu (26/3). Pastor Peter Murnane dan rekannya Nicholas Drake mengatakan bahwa tujuan mereka adalah untuk menunjukkan solidaritas terhadap rakyat Irak."Sekaligus mengkonfrontasi kekuasaan Amerika Serikat dengan tindakan perang mereka," kata Murname kepada wartawan. Keduanya menampung darah mereka di sebuah kotak untuk dibawa secara rahasia ke dalam kantor konsulat Amerika. Setibanya di dalam konsulat, mereka langsung membuat tanda salib dengan darah mereka. Namun pemimpin Katolik di kota Auckland, Patrick Dunn, meminta maaf kepada pejabat Amerika dengan menilai tindakan itu sebagai bentuk ofensif dan melanggar kesopanan. Ia juga menawarkan jasa untuk membayari biaya membersihkan karpet itu. Menanggapi pernyataan ini, Murname menilai Dunn tidak memahami maksud tindakannya. "Kami membuat tanda salib," kata dia. Menyusul aksi unik ini, Murname mengaku mendapat empat telpon bernada marah. "Tapi ada berlusin-lusin pesan yang menyatakan dukungan," kata dia. Budi Riza --- Tempo News Room

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.