Perjalanan Hidup Bunda Teresa, Ibu bagi Orang-orang Melarat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Paus Yohanes Paulus II memegang tangan Bunda Teresa setelah mengunjungi Casa del Cuore Puro, rumah bagi pasien miskin dan sekarat, di Calcutta, India, 3 Februari 1986. REUTERS/Luciano Mellace

    Paus Yohanes Paulus II memegang tangan Bunda Teresa setelah mengunjungi Casa del Cuore Puro, rumah bagi pasien miskin dan sekarat, di Calcutta, India, 3 Februari 1986. REUTERS/Luciano Mellace

    TEMPO.CO, Jakarta - Bunda Teresa hari ini, 4 September 2016, resmi dinyatakan sebagai santa atau orang suci dalam gereja Katolik. Perayaan misa kanonisasi Bunda Teresa sebagai santa dipimpin oleh Paus Fransiskus di Vatikan.

    Bunda Teresa lahir dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu pada tahun 1910 di Skopje, sekarang ibukota Republik Makedonia. Keluarganya beretnis Albania, penganut Katolik.

    Di awal usia 12 tahun, Agnes memutuskan masuk biara di India. Pada usia 19 tahun, dia bergabung dengan Ordo Iris dari Loreto. Di sini Agnes belajar bahasa Inggris. Dan ia kemudian dikirim bertugas ke India tahun 1929.

    Agnes memberi nama dirinya sebagai Bunda Teresa, terinspirasi dari biarawati suci Theresa dari Lisieux, saat ia memulai mengajar di satu sekolah di Darjeeling, kota yang berada di kaki pegunungan Himalaya.

    Di tengah perseteruan komunal sehubungan cengkeraman penjajahan Inggris di India tahun 1946, ia mendengar "panggilan" untuk membantu para orang miskin dan papa yang hidup di antara mereka.

    Baca : Bunda Teresa Jadi Santa, Paus Fransiskus Kritik Dosa Modern

    Setelah 10 tahun membantu orang-orang melarat di tempat-tempat kumuh di Kalkuta, India, di antaranya 100 ribu orang tunawisma, Bunda Teresa kemudian membuka rumah sakit di lahan milik kuil Hindu di Kalighat. Setelah itu, ia melanjutkan dengan membangun rumah untuk anak-anak yang dibuang dari keluarganya dan penderita lepra.

    Bunda Teresa berkarya di seluruh India dan sejak itu namanya mulai dikenal. Seorang jurnalis penganut agnostik Malcom Muggeridge membuat film tentang kepedulian Bunda Teresa tahun 1970. Film itu menarik perhatian dunia Barat.

    "Kata-kata tidak mampu menyatakan tentang betapa saya berterimakasih padanya," kata Muggerige yang kemudian mengimani Katolik.

    Bunda Teresa merupakan pendukung kehidupan. Ia tegas menolak aborsi dan kontrasepsi. Ia menegaskan di hadapan satu konferensi di Oxford tahun 1988 bahwa perempuan yang mendukung aborsi atau kontrasepsi tidak pantas mengadopsi anak. "Perempuan seperti itu tidak memiliki cinta kasih," tegas Bunda Teresa.

    Bunda Teresa mendirikan kongreasinya sendiri yang diberi nama Missionaris Cinta Kasih pada 7 Oktober 1950.Kongresasi ini bertumbuh dengan jumlah biarawati mencapai 4.000 orang di 123 negara. Mereka melayani orang-orang melarat dan sekarat di pemukiman-pemukiman kumuh di 160 kota di dunia.

    Tahun 1979, Bunda Teresa dianugerahi Nobel Perdamaian. Saat penganugerahan itu ia meminta perayaan makan malam mewah dibatalkan dan memohon diberikan kepada orang-orang melarat di Kalkuta.

    Pada 5 September 1997, Bunda Teresa meninggal setelah menderita serangan jantung. Pemerintah India mengadakan upacara khusus pemakamannya. Makam Bunda Teresa berada di dalam kompleks Missionaris Cinta Kasih dan menjadi salah satu tempat peziarahan bagi semua agama dan kepercayaan.

    Lima tahun setelah kematian Bunda Teresa, Paus Yohanes Paulus II mendeklarasikan dimulainya proses penganugerahan orang suci kepada Bunda Teresa.  

    Bukan tanpa kritik perjalanan Bunda Teresa. Seorang feminis terkenal Germaine Greer menjuluki Bunda Teresa sebagai feminis imperialis. Penulis Christopher Hitchens mengkritik Bunda Teresa karena berteman dengan beberapa diktator seperti Duvaliers dari Haiti dan Enver Hoxha dari Albania.

    Namun Bunda Teresa teguh dengan pendiriannya bahwa siapa saja yang menawarkan cintakasih kepada orang-orang melarat harus diterima tanpa memperhatikan hal itu.

    Bunda Teresa meninggalkan sebuah catatan  tentang keyakinan imannya, harapan, dan cintakasihnya yang luar biasa yang diberi judul "Come be My Light."

    Bunda Teresa yang hanya memiliki dua helai pakaian sari selama hidupnya merupakan simbol cinta kasih bagi siapa saja yang tidak dicintai dan tak diinginkan. Ia disapa sebagai ibu bagi orang-orang miskin dan melarat.

    BBC | WWW.VATICAN.VA | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.