Etnis Hunza Jadi Oase Bagi Pakistan yang Sarat Masalah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan Lembah Hunza di Pakistan. independent.co.uk

    Pemandangan Lembah Hunza di Pakistan. independent.co.uk

    TEMPO.CO, Jakarta -Pakistan lebih banyak dikenal  sebagai negara yang sarat masalah mulai dari terorisme, kesenjangan antara si miskin dan kaya, pembunuhan dan penyiksaan terhadap perempuan, tidak toleran,  dan kemiskinan hidup.  Namun, kehidupan etnis Hunza di Pakistan telah mencengangkan dunia. Kenapa?

    Suku Hunja tinggal di lembah Hunza, Karimabad yang dibentengi pegunungan Himalaya, Pakistan. Lembah ini sangat indah dan menakjubkan.

    Etnis Hunza menjadi oase bagi Pakistan untuk merasakan hidup yang penuh toleransi, penuh rasa aman, dan panjang umum. Orang-orang Hunza hidup sebagai muslim yang moderat dengan populasi yang tertinggi bebas dari buta hurup di Pakistan.

    Di Hunza, hampir tidak pernah terjadi kriminalitas, tidak ada tempat bagi ekstrimis Islam di komunitas Hunza. Lebih dari 90 persen penduduk di kota Karimabad ini penganut Syah.

    Sungai-sungai di lembah Hunza mengalir jernih tanpa sampah maupun bahan kimia yang mencemari air. Udara bersih sempurna mengelilingi lembah Hunza.

    Hebatnya, usia harapan hidup etnis Hunja rata-rata berkisar 120 tahun! Bandingkan dengan usia harapan hidup Pakistan yang rata-rata 67 tahun.

    Apa resep orang Hunza panjang umur? Seperti dikutip dari Shughal.com, orang Hunza punya tradisi makan teratur dua kali sekali. Makan banyak saat sarapan dan makan malam setelah matahari terbenam. Mereka hanya memakan makanan alami yang diproduksi dari tanah mereka seperti buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, susu, dan keju. Seluruh makanan tak mengandung bahan penyedap rasa atau kimia. Orang Hunza juga sangat menyukai olah raga.  

    Menariknya lagi, hal yang sangat biasa bagi pasangan suami istri dari etnis Hunza memiliki anak setelah berusia 60 tahun. Bahkan ada sampai berusia 90 tahun.

    Seharian, wajah etnis Hunza diwarnai dengan senyuman. Tekanan, stress dan pikiran-pikiran yang rumit tidak dikenal oleh warga Hunza. Mereka terbebas dari beban mental, mereka tidak mengenal perasaan ragu dan gagal. Cara mereka menjalani hidup digambarkan seperti kehidupan anak-anak.

    Sejak etnis Hunza ada hingga sekarang, tak satupun pernah menderita penyakit berat seperti tumor atau kanker. Mengapa? Ini diduga karena warga Hunza sangat menyukai makanan buah-buahan yang kaya Amygdalin atau vitamin B-17, yang dikenal melindungi tubuh dari serangan virus kanker.

    Dan, orang Hunza adalah pekerja keras. Mereka sangat suka berjalan kaki ke mana saja. Jangan ajak mereka menonton televisi, duduk-duduk santai berlama-lama, dan mengendarai mobil. Mereka tidak tertarik.

    Penduduk Hunza hampir seluruhnya berpendidikan. Angka melek huruf etnis Hunza mencapai 77 persen. Angka melek huruf perempuan Hunza mencapai 90 persen!  Sementara angka melek huruf secara nasional di Pakistan sekitar 58 persen dengan kesenjangan yang jauh antara perempuan dan pria. 


    Dalam setahun, ada periode 2-4 bulan orang-orang Hunza hanya minum jus dari buah aprikot. Ini tradisi lama etnis Hunza yang sampai sekarang dilestarikan. Para ahli kesehatan setuju tradisi minum jus aprikot telah berkontribusi pada kesehatan mereka yang luar biasa.

    Kesehatan kulit etnis Hunza juga dikagumi. Bagaimana mereka sampai memiliki kulit sehalus dan selembut itu? Orang Hunza hanya akan minum dan mandi air es yang datang dari aliran pegunungan. Mereka juga meminum teh herbal yang diseduh dengan air mendidih yang berasal dari air es pegunungan. Nama ramuan ini disebut Tumuru.

    Menurut sejarah, etnis Hunza berasal dari Baltir, sebuah desa yang ditemukan ketika pasukan Alexander Agung yang dalam keadaan terluka dan sakit ditinggalkan di desa itu.

    SHUGHAL.COM | INDEPENDENT | MARIA RITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?