Di Mesir, Imigran yang Jual Ginjal Diberi Bonus Pelacur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • sxc.hu

    sxc.hu

    TEMPO.CO, Kairo- Sindikat perdagangan organ tubuh manusia di Mesir  merayu pengungsi dan imigran untuk menjual ginjal mereka dengan mengiming-imingi wanita penghibur.

    Laporan yang dibuat British Journal of Kriminologi menjelaskan, para broker di Mesir menggunakan jasa pekerja seks sebagai bonus saat bernegosiasi soal harga ginjal, baik dengan penjual dan pembeli. Mereka menawarkan pekerja seks sebagai pemanis sebelum atau setelah mengambil organ para imigran.

    Seperti yang dilansir Daily Mail pada 2 September 2016, pada umumnya yang menjadi sasaran adalah imigran ilegal tanpa dokumen yang berasal dari Afrika yang tiba di Kairo dan membutuhkan uang untuk membayar penyelundup manusia.

    Laporan itu juga mengatakan bahwa rumah sakit yang menerima operasi transpalasi organ menutup mata terhadap bisnis terlarang itu. "Para dokter tidak ingin tahu apa-apa. Mereka mengambil uang tanpa pertanyaan, " kata salah satu pelaku perdagangan organ dalam laporan tersebut.

    Sean Columb, penulis laporan itu yang juga merupakan dosen hukum di Universitas Liverpool, Inggris, menghabiskan waktu beberapa minggu di ibukota Mesir untuk mewawancarai broker dan pendonor, sebagian besar berasal dari Sudan.

    Menurut Columb, pembelian ginjal dilarang di Mesir, namun secara resmi diizinkan untuk membayar prosedur transplantasi melalui sumbangan, dengan beberapa penerima membayar hingga 75 ribu pounsterling (RP 1,3 miliar) untuk organ baru.

    Dari hasil penelitiannya, Columb menemukan bahwa pada imigran yang menjual ginjalnya hanya mendapatkan 3.300 poundsterling atau setara Rp 57,91 juta. Penawaran biasanya terjadi di tempat umum, seperti kafe, di kantor perusahaan broker dan perwakilan dari laboratorium transplantasi terdaftar.

    Mesir merupakan negara tujuan umum untuk transplantasi ilegal bersama dengan India, Pakistan dan Rusia. Ini hasil penelitian terpisah oleh Rumah Sakit Erasmus MC University Rotterdam di Belanda.

    Pada April, beberapa gambar dipublikasikan di media sosial menunjukkan tubuh terluka parah dari imigran Somalia di pantai Mesir, menunjukkan mereka telah melakukan operasi pengambilan organ. Selain itu, pada Juli dilaporkan bahwa imigran Afrika banyak yang dibunuh untuk diambil organnya di Mesir.

    Mesir terletak di persimpangan jalan antara Timur Tengah, Afrika utara dan Mediterania, sehingga menjadikannya pusat transit utama bagi ribuan migran dan pengungsi yang ingin masuk ke Eropa.
    DAILY MAIL|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.