Data PBB, 10 Ribu Orang Tewas Selama Perang Sipil di Yaman  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua orang anak tidur di depan gubuk tempat tinggalnya di kamp pengungsi Shawqaba, Yaman, 12 Maret 2016. Sekitar 400 orang mengungsi di kawasan ini dan hanya tinggal di gubuk untuk melindungi dirinya dari hawa panas dan dingin. REUTERS/Abduljabbar Zeyad

    Dua orang anak tidur di depan gubuk tempat tinggalnya di kamp pengungsi Shawqaba, Yaman, 12 Maret 2016. Sekitar 400 orang mengungsi di kawasan ini dan hanya tinggal di gubuk untuk melindungi dirinya dari hawa panas dan dingin. REUTERS/Abduljabbar Zeyad

    TEMPO.CO, Sana'a - Koordinator Lembaga Kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa Jamie McGoldrick mengatakan jumlah warga sipil yang terbunuh dalam perang saudara di Yaman mencapai 10 ribu jiwa. Jumlah ini meningkat hampir dua kali lipat dari estimasi sebelumnya, yang berkisar di angka 6.000 orang.

    McGoldrick menuturkan data ini didapat dari informasi fasilitas kesehatan di Yaman. Angka tersebut dapat bertambah, mengingat di beberapa wilayah tidak punya layanan kesehatan. "Dan sering dikuburkan tanpa catatan resmi," katanya dalam konferensi pers di Sana'a, yang dikutip dari Reuters, Selasa, 30 Agustus 2016.

    Lembaga Kemanusiaan PBB mengatakan, pekan lalu, 3.799 warga sipil terbunuh dalam serangan udara yang dipimpin Arab Saudi.

    Ia tidak memberikan rincian terkait dengan korban jiwa, yang merupakan warga sipil tersebut. McGoldrick hanya menjelaskan, perang sipil ini membuat tiga juta orang telantar dan 200 ribu lain terpaksa mengungsi ke luar negeri.

    PBB menambahkan, ada sekitar 900 ribu orang yang telantar dan  mencoba untuk kembali ke rumahnya masing-masing. "Ini tantangan yang besar, terutama di wilayah yang masih berkonflik," ucapnya.

    McGoldrick menyebut, situasi kemanusiaan yang terjadi di Yaman itu hal yang tragis. "Pekerjaan kemanusiaan saja tidak dapat memecahkan masalah ini," tuturnya. Ia menyampaikan, 14 juta penduduk Yaman membutuhkan bantuan makanan dan 7 juta lainnya menderita karena rawan pangan.

    Perang sipil terjadi antara kelompok Houthi dan pendukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh yang didukung Iran melawan Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang disokong aliansi negara-negara Arab di bawah pimpinan Arab Saudi. Perang telah berlangsung 18 bulan.

    PBB telah memfasilitasi perundingan damai pada bulan ini, tapi berakhir tanpa kesepakatan. Gagalnya negosiasi diikuti dengan peperangan yang terjadi di seluruh Yaman.

    Sekretaris Negara Amerika Serikat John Kerry mengatakan, setelah pembicaraan dengan pihak Saudi Arabia pekan lalu, Amerika dan negara-negara teluk Arab menyetujui dorongan baru untuk mencapai perdamaian.

    AHMAD FAIZ | REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?