AS Akui Dua Pilotnya Tertangkap di Irak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Washington, AFP:Departemen Pertahanan Amerika (Pentagon) mengumumkan bahwa daftar tawanan perang tentara AS dalam perang di Irak hingga hari ini bertambah menjadi tujuh orang. Dua pilot helikopter Apache bergabung bersama lima orang rekannya yang berasal dari unit pemeliharaan yang telah terlebih dahulu berada dalam daftar itu akibat sergapan di Nassiriya, sebelah Tenggara Irak. Pentagon mengidentifikasi kedua pilot itu masing-masing Sersan Kepala David Williams (30 tahun) dan Sersan Kepala Ronald Young Jr (26 tahun). Young disebutkan berasal dari Lithia Springs, Georgia, sedang Williams hanya disebutkan berasal dari Florida. Seperti diketahui Williams dan Young yang terlibat dalam misi untuk melumpuhkan Divisi Garda Republik di Barat Daya Bagdad terpaksa melakukan pendaratan darurat di Kerbala, 70 mil dari Bagdad. Helikopter serang Apache AH 64 bermesin ganda buatan Boeing yang digunakannya dilaporkan ditembak seorang petani, Ali Obeid-Mingash, yang ikut berjuang dengan senjata tradisionalnya. Apabila janji pemimpin Irak, Saddam Hussein, dipenuhi maka Ali akan memperoleh 50 juta dinar atau senilai dengan US$ 16500 sebagai imbalan atas apa yang telah dilakukannya. Senin kemarin Televisi Irak telah menyiarkan wajah dan investigasi terhadap Williams dan Young yang dinyatakan sebagai tawanan perang. Dalam siaran itu diperlihatkan kartu kredit dan identitas, termasuk Surat Izin Mengemudi dari negara bagian Texas. Mereka yang masih mengenakan seragam pilot berwarna gurun itu terlihat muram dan sedikit gelisah meski mereka hanya diam saja selama empat hingga lima menit tayangan itu. Sementara, dari Georgia, Kay, ibu dari Ronald Young mengatakan dalam sebuah wawancara dengan CNN bahwa putranya kelihatan baik-baik saja. Dia terlihat seperti biasanya ketika dia sedang marah, kata Kay sambil menambahkan bahwa Young tidak memiliki keraguan ketika akan berangkat ke Timur Tengah. Kondisi helikopter yang ditinggalkan oleh kedua pilotnya itu sendiri, seperti diperlihatkan dalam tanyangan Televisi Irak, masih cukup baik. Pasukan AS dikabarkan kini tengah berupaya untuk menghancurkannya, mencegah pasukan Irak memanfaatkan peralatan maupun persenjataan canggih yang ada dalam salah satu alat perang paling efektif di dunia itu. Seorang pejabat di Pusat Komando AS itu bahkan mengungkapkan bahwa pasukan AS telah berhasil melakukan misi penghancurkan helikopter Apache itu. Dia mengatakan bahwa badai pasir yang terjadi pada Selasa pagi memang sempat membatasi pandangan pasukan AS untuk dapat memastikan bahwa helikopter itu berhasil di hancurkan. Helikopter itu telah berhasil dihancurkan, kata pejabat itu tanpa mau disebutkan namanya. Pemerintah AS sendiri memandang beberapa kali siaran atas tawanan perang yang dilakukan penguasa Irak itu sebagai tindakan yang menjijikkan. Investigasi yang ditayangkan langsung juga dinilai telah menyalahi Konvensi Jenewa tentang perlakuan yang semestinya terhadap tawanan perang. Namun demikian Komite Internasional Palang Merah (ICRC) menyatakan pada Senin bahwa kedua belah pihak, AS dan Irak, telah mengingkari konvensi itu dengan mengizinkan gambar-gambar para tawanan perang itu disiarkan melalui televisi. Wuragil --- TNR

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.