Perdana Menteri Singapura Pingsan Saat Pidato

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • PM Singapura Lee Hsien Loong berdiri di depan kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, Israel, 20 April 2016. Dalam kunjungan tersebut, Lee Hsien Loong tampak takjub melihat keindahan tempat yang diyakini sebagai lokasi Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra Mi'raj. REUTERS

    PM Singapura Lee Hsien Loong berdiri di depan kompleks Masjid Al-Aqsa, Yerusalem, Israel, 20 April 2016. Dalam kunjungan tersebut, Lee Hsien Loong tampak takjub melihat keindahan tempat yang diyakini sebagai lokasi Nabi Muhammad melakukan perjalanan Isra Mi'raj. REUTERS

    TEMPO.COManila - Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pingsan saat menyampaikan pidato pada peringatan Hati Kemerdekaan, Minggu, 21 Agustus 2016. Salah satu staf di kantor perdana menteri mengatakan Lee goyah karena terlalu lama berdiri. "Pak Lee goyah karena lama berdiri, panas, dan dehidrasi," kata juru bicara di kantornya. "Jantungnya baik-baik saja dan dia tidak mengalami stroke." Setelah mendapat penanganan dokter, Lee melanjutkan pidatonya.

    Tahun lalu, pria berusia 64 tahun itu melakukan operasi untuk menghilangkan kelenjar prostatnya. Dia didiagnosis menderita limfoma pada 1990-an tapi sudah dinyatakan sembuh.

    Lee menjabat perdana menteri sejak Agustus 2004. Dalam pidatonya, ia mengatakan prioritas utama pemerintahannya adalah mempersiapkan kesuksesan negara. Lee mengatakan perdana menteri yang baru harus siap mengambil alih pemerintahan setelah pemilihan umum berikutnya. 

    Partai Rakyat Beraksi (PAP) yang mengusung Lee sudah berkuasa sejak 1959. Kala itu Singapura masih menjadi koloni Inggris. Sebagai mantan perwira militer dan ahli matematika dari Cambridge, Lee mengikuti jejak ayahnya, Lee Kwan Yew, terjun ke dunia politik pada 1984 saat ia berumur 32 tahun.

    BBC | MAYA AYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.