Kisah Fotografer yang Memotret Derita Bocah Suriah, Omran

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto yang diambil dari potongan video yang dirilis oleh aktivis anti-pemerintah Suriah Aleppo Media Center (AMC), menunjukkan seorang bocah duduk di dalam mobil ambulance usai diselamatkan dari rerentuhan gedung di Aleppo, Suriah, 17, 2016. Bocah berumur lima tahun tersebut, Omran Daqneesh berhasil selamat dari runtuhan gedung yang hancur akibat serangan udara dari pesawat jet. REUTERS

    Foto yang diambil dari potongan video yang dirilis oleh aktivis anti-pemerintah Suriah Aleppo Media Center (AMC), menunjukkan seorang bocah duduk di dalam mobil ambulance usai diselamatkan dari rerentuhan gedung di Aleppo, Suriah, 17, 2016. Bocah berumur lima tahun tersebut, Omran Daqneesh berhasil selamat dari runtuhan gedung yang hancur akibat serangan udara dari pesawat jet. REUTERS

    TEMPO.CO, Damaskus - Mahmoud Rislan, fotografer yang mengabadikan foto fenomenal bocah usia lima tahun Suriah, Omran Daqneesh, yang berhasil diselamatkan dari reruntuhan bangunan disebabkan serangan udara Rusia di Aleppo, mengisahkan tentang situasi yang sangat mengenaskan pada saat itu.

    Rislan menuturkan saat itu dirinya berdiri sekitar 300 meter dari lokasi serangan yang menghancurkan beberapa bangunan. Setelah melakukan shalat Isha yakni sekitar pukul 19:00 waktu setempat, dia mendengar suara ledakan. Ia bergegas menuju ke lokasi bersama dengan tiga jurnalis lainnya.

    Ketika sampai disana, dia melihat tiga mayat yang tengah diangkut ke ambulans. Mereka adalah tetangga Omran. Bangunan enam lantai yang menjadi sasaran pengeboman oleh pesawat Rusia hancur menyisakan puing-puing telah rata dengan tanah.

    Lalu dia menengok ke gedung sebelahnya yang setengah hancur. Itu rumah keluarga Omran. Rislam melihat para relawan dari White Helmets menaiki tangga gedung di dekatnya untuk menyelamatkan Omran.

    Setelah Omran berhasil diselamatkan, Rislan kemudian mengambil kameranya dan mulai merekamnya. Tak kuasa menahan sedih, Rislan merekam penderitaan Omran sambil menangis.  Meskipun itu bukan pertama kali dia menangis, namun diakuinya bahwa kali ini kesedihannya seakan mencapai puncak dengan mnyaksikan kenyataan yang sangat pahit tersebut.

    "Kami fotografer perang selalu menangis. Aku menangis berkali-kali saat merekam anak yang trauma itu. Semalam semua orang menangis," ungkap Rislan yang memfoto bocah Omran dan kemudian menjadi viral di media sosial di seluruh dunia.

    Rislan mengaku bahwa Omran telah meluluhkan hatinya karena dia hanya berdiam diri tanpa mengeluh sakit dan menangis. Darah di kepalanya bercampur dengan debu dari reruntuhan bangunan. Omran mengingatkan dirinya pada puterinya yang baru berusia 7 hari, yang bisa saja mengalami hal serupa bila berada di Suriah.

    Tim relawan dari White Helmets terus menyelamatkan anggota keluarga. Kakak tertua Omar yang berikutnya berhasil di selamatkan, ia berusia 11. Ia lalu menatap ke arah Rislan dan meminta untuk tidak merekamnya.

    Beruntung semua keluarga Omran berhasil diselamatkan, ibunya menderita  cedera parah di kakinya. Ayahnya menderita cedera kepala ringan. Seorang lagi kakaknya yang berusia 7 tahun juga berhasil diselamatkan meski harus menjalani operasi untuk cederanya.

    Keesokan harinya, barulah Rislan menyadari bahwa video dan foto yang diambilnya dan diunggah ke Internet telah menjadi viral di seluruh dunia dan telah dibagikan jutaan kali.

    Dia lantas berpesan agar foto tersebut dapat menggerakan hati setiap orang supaya dapat menghentikan perang, sehingga bocah seperti Omran dan putrinya Amal dapat hidup normal seperti anak-anak lain di dunia.

    SYRIA CAMPAIGN|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.