Kementerian Luar Negeri: Butuh Uang, Penyandera Tak Akan Celakai 5 WNI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Muhammad Sofyan (tengah), korban sandera militan Abu Sayyaf, dikawal polisi di Jolo, Sulu, Filipina selatan 17 Agustus 2016. Sofyan mengaku melarikan diri setelah Abu Sayyaf mengancam akan memenggal lehernya. REUTERS/Stringer

    Muhammad Sofyan (tengah), korban sandera militan Abu Sayyaf, dikawal polisi di Jolo, Sulu, Filipina selatan 17 Agustus 2016. Sofyan mengaku melarikan diri setelah Abu Sayyaf mengancam akan memenggal lehernya. REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Makassar - Kepala Subdirektorat Pengawasan Kekonseleran Direktorat Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Kementerian Luar Negeri Krishna Djelani memastikan nasib lima awak kapal TB Charles dalam kondisi baik. Pihak penyandera yang berada di Filipina akan berpikir dua kali untuk mencelakakan para sanderanya lantaran membutuhkan uang.

    "Logikanya sederhana, mereka butuh duit dan sudah pasti tidak akan dapat bila ada apa-apa dengan tawanan," ucap Krishna di Makassar, Jumat, 19 Agustus 2016.

    Krishna mengatakan pihak penyandera terus melakukan komunikasi dengan pihak perusahaan PT Rusianto Bersaudara. Komunikasi rutin dilakukan melalui sambungan telepon.

    Menurut Krishna, lolosnya dua sandera, yakni Muhammaf Sofyan dan Ismail Tiro, diyakini tidak berdampak bagi keselamatan lima sandera lain. Penyandera, ujar dia, membutuhkan uang, sehingga diduga tetap menjaga keselamatan sandera.

    Lima awak TB Charles yang masih disandera adalah kapten kapal, Ferri Arifin; kepala kamar mesin, Muhammad Mabrur Dahri; masinis Edi Suryono dan Muhammad Natsir; serta juru mudi Robin Piter.

    Krishna menuturkan para sandera kerap berpindah tempat. "Sinyal telekomunikasi mereka juga susah dilacak," ucap Krishna.

    Menurut Krishna, pemerintah menggunakan dua pola dalam upaya pembebasan sandera. Selain menempuh jalur negosiasi, pemerintah melakukan operasi intelijen. "Pihak perusahaan juga berusaha bernegosiasi mengenai jumlah uang tebusan," ujarnya.

    Terakhir, menurut Krishna, para penyandera meminta uang tebusan sebesar 150 juta peso. Khusus pemerintah, tutur dia, telah bersikap tegas tidak akan membayar uang tebusan.

    Manager Operasional PT Rusianto Bersaudara Marjoko menolak menanggapi ihwal pembayaran uang tebusan. "Kami hanya minta pemerintah memberi perlindungan dan pendampingan selama negosiasi berlangsung," katanya.

    Adapun tante Mabrur, Nirwana, 50 tahun, menyatakan tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya pasrah dan menunggu hasil dari upaya pemerintah dan perusahaan. "Yang pasti kami senang mendengar kabar kondisi ponakan kami baik-baik saja," ucapnya.

    ABDUL RAHMAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.