Manajer Google Tewas: Vanessa Marcotte Korban Pembunuhan Berantai?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Vanessa Marcotte (27 tanun), tewas dengan tragis setelah diperkosa dan dibakar saat jogging sore di hutan Massachusetts, AS. Manajer Google ini hilang saat jogging kurang dari 1 km dari rumah ibunya pada Ahad lalu. Instagram.com

    Vanessa Marcotte (27 tanun), tewas dengan tragis setelah diperkosa dan dibakar saat jogging sore di hutan Massachusetts, AS. Manajer Google ini hilang saat jogging kurang dari 1 km dari rumah ibunya pada Ahad lalu. Instagram.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Kematian karyawan Google, Vanessa Marcotte, 27 tahun, yang ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan setelah dinyatakan hilang pasca-joging pada pekan lalu, 7 Agustus 2016, memunculkan banyak analisis. Salah satunya datang dari Patricia Kirby, mantan Agen Khusus Biro Penyelidik Federal (FBI) dan profiler.

    Kirby mengatakan kematian Marcotte berpola. Polanya adalah dia akan mengunjungi ibunya di akhir pekan dan akan pergi joging sebelum kembali ke kota, pekan itu. Jika Marcotte bukan korban tindakan acak, kata Kirby, jogingnya di akhir pekan merupakan celah untuk membunuhnya.

    Baca: Manajer Google Dibunuh: Vanessa Diduga Melawan Pelaku

    Selama bekerja di FBI, Kirby telah menyelidiki sejumlah kasus terhadap perempuan yang menjadi korban pemerkosaan atau pembunuhan saat joging. Hal ini terjadi karena para penyuka joging sering mendengarkan musik melalui headphone. Biasanya, mereka joging sendirian. "Ini tempat yang produktif bagi seseorang yang berniat buruk."

    Menurut Kirby, tindakan menyerang seseorang yang tengah joging menunjukkan karakter pembunuhnya. Sebab, Marcotte sosok yang atletis, tegas, dan melawan penyerangnya sebelum tewas. "Mereka dia akan berjuang mati-matian untuk lolos," kata Kirby, yang menjadi inspirasi untuk karakter Clarice dalam film Silence of The Lamb.

    Baca: Manajer Google Ditemukan di Hutan Seusai Hilang Saat Joging

    Setelah mati, tubuh Marcotte dibakar. Kirby berujar, tindakan ini merujuk ke pola pikir si pembunuh setelah kejahatan itu dilakukan. “Dia bertarung dengannya. Pembunuh itu tahu dia (Marcotte) memiliki DNA-nya," ujar Kirby. DNA si pembunuh diduga tertinggal di tubuh Marcotte sehingga pembunuh itu membakar tubuh Marcotte.

    Meski begitu, ia tak yakin pembunuh telah mencapai tujuannya karena tubuh Marcotte tak sepenuhnya terbakar. Sebelum kematian Marcotte, kasus pembunuhan dengan pola yang mirip juga menimpa penggemar joging bernama Karina Vetrano, 30 tahun, asal New York. Ia menghilang saat joging di rawa terpencil dekat rumahnya.

    Baca: Ini Lima Fakta Kematian Manajer Google Vanessa Marcotte

    Kirby menuturkan ada kemungkinan Marcotte dan Vetrano dibunuh oleh orang yang sama, meski berada di dua tempat yang terpisah, yakni sekitar 400 kilometer. "Pembunuh berantai akan bepergian. Ini adalah bagian dari kemampuan mereka untuk tetap di bawah radar penegakan hukum," ucap Kirby.

    MASSLIVE.COM | HEART.ORG | DIKO OKTARA

    Baca Juga
    Imam Masjid di New York Tewas Ditembak Pria Tak Dikenal
    Wagub Djarot Buka Lebaran Betawi, Ahok di Mana?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.