Cina Bangun Hanggar Pesawat Tempur di Laut Cina Selatan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • J-15 pesawat tempur terbaru dari Tiongkok, pesawat tersebut merupakan modifikasi dari Su-27. Terlihat j-15 sedang take off dari kapal induk milik Tiongkok, sayap pesawat ini dapat dilipat sehingga dapat dimasukan kedalam hanggar kapal Liaoning, 8 Januari 2015. Dailymail.co.uk

    J-15 pesawat tempur terbaru dari Tiongkok, pesawat tersebut merupakan modifikasi dari Su-27. Terlihat j-15 sedang take off dari kapal induk milik Tiongkok, sayap pesawat ini dapat dilipat sehingga dapat dimasukan kedalam hanggar kapal Liaoning, 8 Januari 2015. Dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Washington - Amerika Serikat mempublikasikan gambar-gambar satelit terbaru yang menunjukkan Cina membangun hanggar pesawat di Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan, yang disengketakan.

    Foto-foto tersebut dikumpulkan dan diteliti lembaga kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington.

    Seperti yang dilansir New York Times pada 9 Agustus 2016, hanggar-hanggar pesawat itu dibangun di Fiery Cross, Subi, dan Mischief Reefs, bagian dari Kepulauan Spratly.

    Meskipun tidak ada pesawat yang terlihat saat gambar-gambar itu diambil pada akhir Juli lalu, tapi bangunan itu memiliki ruang yang cukup untuk menampung beberapa jet tempur angkatan udara Cina.

    Salah satu hanggar yang paling besar dapat menampung jet tempur H-6 bomber dan H-6U Cina, pesawat tanker, pesawat angkut Y-8, dan Airborne KJ200.

    "Bangunan itu jauh lebih tebal daripada yang biasa digunakan untuk pesawat sipil," kata Gregory B. Poling, Direktur Pusat Asia Maritime Transparency Initiative.

    Menurut Poling, jika pesawat-pesawat tempur Cina ditempatkan ke beberapa hanggar tersebut, penyelesaian sengketa Cina dengan Filipina dan negara-negara lain akan semakin sulit.

    Cina mengklaim sebagian besar wilayah Laut Cina Selatan, rute kapal dagang dengan nilai lebih US$ 5 triliun (RM 20 triliun) setiap tahun. Filipina, Vietnam, Malaysia, Taiwan, dan Brunei juga memiliki klaim wilayah yang saling tumpang-tindih di kawasan itu.

    Gambar-gambar itu muncul sekitar sebulan setelah pengadilan internasional di Den Haag memutuskan untuk menolak klaim Cina atas seluruh wilayah yang kaya dengan sumber daya alam itu.

    NEW YORK TIMES | REUTERS | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.