Pele Absen dalam Pembukaan Olimpiade Rio, Ini Alasannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Legenda sepakbola dunia asal Brasil, Pele (kanan) dan Diego Maradona asal Argentina, saling berjabat tangan saat menghadiri sebuah pertandingan

    Legenda sepakbola dunia asal Brasil, Pele (kanan) dan Diego Maradona asal Argentina, saling berjabat tangan saat menghadiri sebuah pertandingan "five-a-side" jelang dimulainya perhelatan dunia, Piala Euro 2016 di Paris, Perancis, 9 Juni 2016. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Legenda sepak bola Brasil, Pelé, kemungkinan besar bakal absen dalam pembukaan Olimpiade Rio 2016 Brasil, pada Jumat, 5 Agustus 2016. Pelé absen lantaran memenuhi kewajiban kontrak sponsornya. "Saya memiliki kontrak dan saya terikat untuk memenuhi," kata Pelé, Kamis, 4 Agustus 2016.

    Menurut Reuters, seperti dikutip Bussinessinsider.co.au, Pelé sedang memeriksa perusahaan asal Amerika Serikat yang memiliki hak atas namanya. Pelé membatalkan perjalanan yang direncanakan untuk menghadiri upacara pembukaan acara olahraga terbesar di dunia itu.

    Sebelumnya, kepada stasiun televisi Brasil, Globo TV, Selasa lalu, Pelé mengaku diundang untuk menyalakan kaldron Olimpiade. Namun, karena kewajiban sponsor, rencana itu pupus. "Sebagai warga Brasil, saya akan senang melakukannya," kata dia.

    Sampai saat ini, Pelé belum menerangkan sponsor yang dimaksud. Menurut Yahoo!, Pelé memiliki kesepakatan sponsor, seperti Subway, Volkswagen, dan Hublot. Namun tidak satu pun dari sponsor tersebut menjadi sponsor resmi Olimpiade. Pelé dilaporkan membuat kontrak US$ 25 juta pada 2014.

    Terlepas dari kewajiban tersebut, sulit untuk membayangkan sebuah perusahaan berusaha menghalangi Pelé untuk terlibat dalam upacara pembukaan pesta olahraga empat tahunan tersebut. Olimpiade Rio 2016 bakal digelar pada 5-21 Agustus 2016.

    ARKHELAUS W. | BUSINESS INSIDER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.