Fakta Baru di Balik Hilangnya Malaysia Airlines MH-370

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota keluarga dari penumpang pesawat MH370 berteriak pada wartawan setelah menonton siaran televisi dari konferensi pers, di Beijing, 24 Maret 2014. Pesawat ini menghilang dalam perjalanan ke Beijing dari Kuala Lumpur pada 8 Maret 2014. REUTERS/Jason Lee

    Seorang anggota keluarga dari penumpang pesawat MH370 berteriak pada wartawan setelah menonton siaran televisi dari konferensi pers, di Beijing, 24 Maret 2014. Pesawat ini menghilang dalam perjalanan ke Beijing dari Kuala Lumpur pada 8 Maret 2014. REUTERS/Jason Lee

    TEMPO.CO, Sydney - Pejabat Australia mengkonfirmasi bahwa data simulator penerbangan yang diambil dari rumah pilot pesawat nahas Malaysia Airlines MH370, menunjukan seseorang telah memanfaatkan perangkat itu. Data simulator diduga dipakai berlatih menerbangkan pesawat ke bagian selatan Samudera Hindia, tempat yang sama dimana jet penumpang tersebut dinyatakan hilang.

    Badan Pusat Bersama Koordinasi Australia, yang mengawasi pencarian pesawat di lepas pantai barat Australia, mengatakan pemeriksaan terhadap simulator penerbangan milik Kapten Pilot Zahaire Ahmad Shah menunjukkan "seseorang telah mengatur haluan ke Samudera Hindia bagian selatan".

    "Simulator penerbangan kapten MH370 menunjukkan seseorang mengatur rute ke Samudera Hindia bagian selatan," kata Scott Mashford, juru bicara JACC, seperti yang dilansir CNN pada 28 Juli 2016. Namun Mashford menambahkan, data dari simulator penerbangan tersebut hanya menunjukkan kemungkinan perencanaan tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada pesawat Boeing 777 itu.

    Majalah New York pada Jumat lalu, yang mengutip dokumen rahasia FBI menunjukkan Zaharie merancang rute simulasi yang sama dengan rute yang dilalui oleh MH370, hanya beberapa minggu sebelum pesawat itu dilaporkan hilang. Pengungkapan itu memanaskan kembali spekulasi di media Australia, hari ini, bahwa tragedi misterius itu mungkin merupakan satu tindakan pembunuhan atau bunuh diri.

    Namun, Australia dan Malaysia membantah laporan yang makin memperkeruh nasib pesawat yang hilang itu. Persitiwa ini menjadi insiden paling misterius dalam dunia penerbangan. Pesawat naas tersebut menghilang pada Maret 2014 saat terbang dari Kuala Lumpur menuju Beijing dengan membawa 239 penumpang dan awak. Berdasarkan citra satelit, pesawat itu diyakini jatuh di perairan terpencil Samudera Hindia bagian selatan.

    Pekan lalu, pihak-pihak yang bergabung dalam pencarian--yang telah menghabiskan dana sekitar A$ 180 juta dolar atau Rp 1,7 triliun melalui pencarian bawah laut di perairan seluas 120 ribu kilometer persegi--yakni Australia, Malaysia dan Cina memutuskan untuk menangguhkan sementara pencarian di Samudera Hindia. Ketiga negara menyebut, pencarian ini akan dilanjutkan jika muncul bukti baru yang kredibel.

    CNN | INDEPENDENT | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.