Hukuman Mati Diberlakukan, Turki Dikeluarkan dari Uni Eropa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Recep Tayyip Erdogan memberi sambutan usai mengikuti salat mayit berjamaah pada sejumlah korban aksi Kudeta Militer Turki di Masjid Fatih, Istanbul, Turki, 17 Juli 2016. (Burak Kara/Getty Images)

    Recep Tayyip Erdogan memberi sambutan usai mengikuti salat mayit berjamaah pada sejumlah korban aksi Kudeta Militer Turki di Masjid Fatih, Istanbul, Turki, 17 Juli 2016. (Burak Kara/Getty Images)

    TEMPO.COAnkara - Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini menegaskan, Turki akan dikeluarkan dari keanggotaan Uni Eropa jika mengembalikan kebijakan hukuman mati terkait dengan kudeta berdarah yang gagal.

    "Tidak ada negara yang bisa menjadi negara anggota Uni Eropa jika menggunakan hukuman mati," ujar Mogherini seperti dikutip dari CNN

    Saat ini Erdogan telah menangkap sedikitnya 7.000 orang yang diduga terkait dengan kudeta Turki. Sebelumnya, Erdogan menegaskan akan menghukum mati para pelaku kudeta pada Jumat malam, 15 Juli 2016. Pemerintah Turki mempertimbangkan untuk merevisi aturan hukum agar sanksi hukuman mati dapat diberlakukan. Ini sebagai efek jera agar tidak terulang lagi.

    Erdogan juga mengancam media massa yang memihak atau mendukung kelompok kudeta di Turki. 

    Fethullah Gulen, ulama dan pengusaha tajir Turki yang mengasingkan diri ke Pennsylvania, Amerika Serikat sejak 1999, dituding sebagai otak di balik kudeta berdarah yang menewaskan lebih dari 200 orang dan melukai lebih dari 1.000 orang. Namun Gulen membantah dan menegaskan tidak akan pulang ke Turki. 

    CNN | AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.