Vietnam Sambut Putusan Tribunal Soal Laut Cina Selatan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penutupan public hearing yang membahas gugatan Filipina terhadap Cina atas Laut Cina Selatan di Pengadilan Arbitrase Internasional, Den Haag, Belanda, 30 November 2015. Tampak kursi yang seharusnya diduduki delegasi Cina kosong. (Foto/Permanent Court of Arbitration)

    Suasana penutupan public hearing yang membahas gugatan Filipina terhadap Cina atas Laut Cina Selatan di Pengadilan Arbitrase Internasional, Den Haag, Belanda, 30 November 2015. Tampak kursi yang seharusnya diduduki delegasi Cina kosong. (Foto/Permanent Court of Arbitration)

    TEMPO.COVietnam- Juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam, Le Hai Binh, mengatakan negaranya menyambut putusan pengadilan tetap arbitrase internasional (PAC-Tribunal) mengenai sengketa Laut Cina Selatan yang memutuskan Cina tidak memiliki hak atas kawasan Laut Cina Selatan. 

    "Vietnam menyambut pengadilan arbitrase yang mengeluarkan putusan akhirnya," kata Binh seperti dikutip dari Reuters, Selasa, 12 Juli 2016.

    Binh menambahkan, Vietnam mendukung penyelesaian sengketa di Laut Cina Selatan dengan cara damai. "Termasuk proses diplomatik dan hukum serta menahan diri dari penggunaan ancaman kekuatan militer sesuai dengan hukum internasional."

    Binh menuturkan kementeriannya akan memberikan keterangan lebih rinci ihwal hasil putusan tersebut di lain waktu. Pihaknya menegaskan kembali klaim kedaulatan Vietnam terhadap Pulau Paracel dan Spratly beserta yurisdiksi zona ekonomi eksklusif.

    Tribunal hari ini memutuskan menolak klaim Cina soal wilayah di Laut Cina Selatan karena dianggap minim bukti sejarah. Pemerintah Cina juga dinilai melanggar hak-hak kedaulatan Filipina.

    Filipina bertindak sebagai pihak yang mengajukan gugatan klaim Cina sejak 2013. Mereka menyatakan Cina melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS), yang ditandatangani baik oleh Filipina maupun Cina.

    Pengadilan juga menyatakan pemerintah Cina telah menyebabkan kerusakan lingkungan di kawasan Laut Cina Selatan karena membangun pulau buatan.

    REUTERS | AHMAD FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?