AS Beri Sanksi Kim Jong Un, Korut Anggap Deklarasi Perang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un saat menyaksikan uji tembak rudal balistik Hwasong-10 pada 23 Juni 2016. Korea Utara sukses meluncurkan rudal balistik Hwasong-10 yang juga dikenal sebagai Musudan sejauh 400 km ke arah perairan. REUTERS/KCNA

    Ekspresi Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un saat menyaksikan uji tembak rudal balistik Hwasong-10 pada 23 Juni 2016. Korea Utara sukses meluncurkan rudal balistik Hwasong-10 yang juga dikenal sebagai Musudan sejauh 400 km ke arah perairan. REUTERS/KCNA

    TEMPO.CO, Pyongyang -  Korea Utara menganggap sanksi yang diberikan  Amerika Serikat kepada Presiden Kim Jong Un dan 10 pejabat kabinet sebagai deklarasi perang. Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Amerika Serikat dianggap telah menghina pemimpin tertinggi mereka.

    "Penjatuhan sanksi adalah tindakan permusuhan terburuk yang pernah dilakukan AS dan  merupakan deklarasi perang terbuka terhadap  Korea Utara karena  telah jauh melampaui konfrontasi atas isu HAM,” demikian pendapat Kementerian Luar Negeri Korea Utara.

    Sanksi yang diberlakukan AS untuk Kim Jong-un adalah membekukan semua aset pribadinya di AS dan melarang warga AS berbisnis dengannya. Kim Jong Un dituduh bertanggung jawab terhadap pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Korea Utara.

    Departemen Luar Negeri Amerika menilai Kim dan 10 pejabat lainnya bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia, berupa penyiksaan, pembunuhan, dan pemerkosaan. Para pejabat juga dituduh melacak dan membunuh pembelot yang melarikan diri di negara itu.

    Banyak pelanggaran di kamp-kamp penjara politik yang berisi 80 ribu hingga 120 ribu tahanan. Selain itu, Korea Utara juga menerapkan sistem kerja paksa dan membatasi kebebasan berekspresi dan beragama.

    Tak hanya sekali ini Korea Utara mengeluarkan gertakan untuk perang. Dalam setahun ini, negara yang memiliki senjata nuklir itu tercatat empat kali merespon dengan bahasa yang sama setelah mendapatkan kecaman dari Amerika Serikat maupun Korea Selatan.

    Pada April, Korea Utara menyebut latihan militer Amerika dan Korea Selatan adalah sebuah deklarasi perang terbuka. Sebelumnya, saat Februari Kim Jong Un juga mengatakan frase yang sama sebelum latihan itu dilakukan oleh kedua negara. Kim saat itu memperingatkan tentara Amerika akan menjadi abu di Pasifik. "Mari kita buat Seoul dan Washington menjadi lautan api," ucap dia.

    Kantor berita Korea Utara mengungkapkan lagi deklarasi perang pada pertengahan Februari. Hal itu terjadi karena Korea Selatan memprotes peluncuran rudal Korea Utara lalu menarik pabrik industri Kaesong yang dikelola bersama oleh kedua negara.

    USATODAY | MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?