Ini Aturan Baru Cara Berpakaian Saat Kunjungi Angkor Wat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Beberapa biksu di halaman Angkor Wat, Kamboja. Awalnya Angkor Wat dipersembahkan untuk memuliakan Wishnu, namun pada akhir abad 13 dialih fungsikan dari candi Hindu menjadi candi Buddha Theravada. wikipedia.org

    Beberapa biksu di halaman Angkor Wat, Kamboja. Awalnya Angkor Wat dipersembahkan untuk memuliakan Wishnu, namun pada akhir abad 13 dialih fungsikan dari candi Hindu menjadi candi Buddha Theravada. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Phnom Penh- Turis  yang akan mengunjungi tempat wisata Angkor Wat, kini harus berhati-hati akan pakaian apa yang akan dikenakannya mulai bulan depan. Pasalnya, otoritas pengelola Angkor Wat membuat aturan baru berupa larangan turis mengenakan celana atau rok di atas lutut dan kaus T-shirt termasuk kemeja tanpa lengan.

    Juru Bicara Otoritas Apsara Long Kosal menjelaskan aturan baru ini dilakukan untuk mendorong pengunjung Angkor Wat menghormati kesucian kuil itu, dan juga budaya Kamboja mulai 4 Agustus mendatang. “Kami tidak akan membiarkan mereka membeli tiket masuk kuil, jika mereka mengenakan pakaian terbuka,” kata Long Kosal seperti dikutip dari Phnom Penh Post, Kamis, 7 Juli 2016.

    Nantinya pengunjung akan diminta untuk memakai celana atau rok di bawah lutut, dan T-Shirt yang menutupi bahu. Para petugas Angkor Wat akan membantu pengunjung memberitahu apa yang harus dikenakan oleh mereka. “Sehingga mereka bisa kembali membeli tiket setelah mengubah pakaian mereka,” ujar Long.

    Long Kosal melanjutkan bahwa ketika pengunjung berpakaian dengan tepat saat berkunjung, berarti pengunjung menunjukkan rasa hormat kepada kuil suci Kamboja, beserta budaya dan nilai-nilai perempuan Kamboja.

    Presiden Asosiasi Agen Perjalanan Kamboja Ang Kim Eang menyetujui langkah ini, namun tetap memperingatkan bahwa pengunjung dan pihak lain yang terlibat dalam industri pariwisata perlu diberikan pemberitahuan yang cukup. “Saya tidak berpikir itu adalah masalah bagi wisatawan, jika mereka diberitahu,” ucap Eang.

    Aturan ini merupakan bagian dari kode etik yang lebih luas dalam menanggapi sejumlah wisatawan asing melakukan aktivitas pemotretan setengah telanjang di situs kuno itu, dan menodai kuil itu. Eang mengatakan jenis kegiatan seperti itu membuat marah masyarakat Kamboja.

    Aturan seperti ini dianggap mampu meminimalkan dampak-dampak negatif seperti itu. “Di neger ini, anda tak dapat melakukan sesuatu yang gila. Anda harus menghormati aturan,” tutur Eang.

    PHNOM PENH POST | DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.