Setelah Kim Jong Un, Kini Donald Trump Puji Saddam Hussein

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kandidat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bersama istrinya Melania Trump berpose saat menghadiri TIME 100 Gala di Manhattan, New York, 26 April 2016. REUTERS

    Kandidat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump bersama istrinya Melania Trump berpose saat menghadiri TIME 100 Gala di Manhattan, New York, 26 April 2016. REUTERS

    TEMPO.CO, Raleigh - Setelah menyebut akan menyambut pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan memberi nilai A untuk kepemimpinan Presiden Suriah Bashar Al-Assad,  Donald Trump lagi-lagi memperlihatkan sudut pandangnya yang unik atas tokoh-tokoh kontroversial dunia.

    Dalam wawancara dengan CNN baru-baru ini, ia menyanjung mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

    Meski mengakui Saddam Hussein adalah "orang jahat", Trump menyebut mantan diktator Irak itu berhasil memberantas terorisme, kendati selama berkuasa Irak masuk daftar negara sponsor terorisme.

    "Dia adalah orang jahat, benar-benar orang jahat," kata Trump seperti yang ditulis CNN, Selasa, 5 Juli 2016. "Tapi Anda tahu apa yang dia lakukan dengan baik? Dia berhasil membunuh para teroris. Dia melakukannya dengan sangat baik."

    Trump juga menyebut Irak hari ini, tanpa Saddam Hussein, menjadi "Harvard" bagi para teroris. Harvard merupakan salah satu universitas terbaik di Amerika Serikat. "Jika ingin jadi teroris, pergilah ke Irak, itu seperti Harvard, Oke? Sangat menyedihkan, sangat menyedihkan," ucap Trump.

    Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat Paul Ryan terkejut mendengar pernyataan Trump. Ryan menegaskan, Saddam Hussein adalah orang paling jahat abad ke-20.

    Sedangkan mantan Presiden Amerika Serikat, George W. Bush, yang mengesahkan perang Irak, menyebut dunia kini lebih baik tanpa Saddam Hussein.

    Adapun kubu Hillary Clinton, calon presiden asal Partai Demokrat, lawan politik Trump dalam pemilihan Presiden, berkomentar pujian Trump merefleksikan sikapnya. "Trump memuji Saddam Hussein sebagai pembunuh teroris, artinya dia setuju tidak pernah menggubris hak-hak siapa pun," kata Jake Sullivan, penasihat senior kampanye. Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat menilai Saddam Hussein banyak melakukan pelanggaran hak-hak asasi manusia rakyatnya.

    Menurut Sullivan, sikap Trump yang condong menjadi pemerintah diktator menunjukkan betapa berbahayanya dia. Selain Hussein dan Assad, Trump mengapresiasi Presiden Rusia Vladimir Putin dan mantan Presiden Libya, Muammar Khadafy.

    CNN | ABC | MAYA AYU PUSPITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?