Pidato Pasca-Brexit, Ratu Elizabeth Minta Politikus Tenang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mahasiswa Inggris memegang bendera Inggris dan Uni Eropa di depan parlemen di Brussels, Belgia, 23 Juni 2016. REUTERS/Eric Vidal

    Mahasiswa Inggris memegang bendera Inggris dan Uni Eropa di depan parlemen di Brussels, Belgia, 23 Juni 2016. REUTERS/Eric Vidal

    TEMPO.CO, London - Dalam pidato publik pertamanya pasca-Brexit, Ratu Elizabeth III menyerukan kepada pemimpin politik di seluruh Inggris Raya agar berpikir tenang dan harus memiliki harapan serta optimisme yang kuat tentang masa depan mereka.

    Pernyataan tersebut disampaikan Ratu saat membuka sidang sesi kelima pelantikan Parlemen Skotlandia yang baru pada Sabtu pekan lalu dengan didampingi suaminya, Raja Edward.

    Dalam pidatonya, pemimpin Inggris Raya tersebut mengatakan Inggris harus cepat dan tegas dalam menanggapi segala situasi di dunia yang semakin rumit. Meskipun demikian Ratu menyarankan agar para pemimpin tetap tenang dan optimistis dalam menghadapinya.

    "Salah satu cara bagi pemimpin dalam menghadapi situasi dunia yang bergerak dengan cepat adalah berpikir tenang dan kontemplasi, sehingga bisa membuat pertimbangan yang terbaiki," katanya, seperti yang dilansir Belfast Telegraph pada Senin, 4 Juli 2016.

    Dalam pidatonya, Ratu Elizabeth tidak menyinggung langsung hasil referendum Uni Eropa, tapi kata-katanya dipandang sebagai referensi apolitis untuk Brexit dan perubahan politik di Inggris.

    Perdana Menteri Skotlandia dalam menanggapi pidato Ratu mengatakan Parlemen Skotlandia yang baru harus berani dan ambisius serta menunjukkan keberanian dan tekad selama lima tahun ke depan.

    Imbas dari Brexit sendiri telah memicu referendum baru pada kemerdekaan Skotlandia setelah 62 persen dari populasi Skotlandia memilih untuk tetap bergabung dalam Uni Eropa.

    TELEGRAPH | BELFAST TELEGRAPH | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.