Kisah Muhammad Ali Traktir Sarapan di McDonald Jakarta

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sekitar 14 ribu orang menyambut kedatangan jenazah mendiang Muhammad Ali yang akan disalatkan di Louisville, Kentucky, AS, 9 Juni 2016. Salat jenazah ini dipimpin oleh Imam California, Zaid Shakir, yang mendampingi Ali di saat-saat terakhirnya. REUTERS/Carlos Barria

    Sekitar 14 ribu orang menyambut kedatangan jenazah mendiang Muhammad Ali yang akan disalatkan di Louisville, Kentucky, AS, 9 Juni 2016. Salat jenazah ini dipimpin oleh Imam California, Zaid Shakir, yang mendampingi Ali di saat-saat terakhirnya. REUTERS/Carlos Barria

    TEMPO.CO, Jakarta - Petinju legendaris Muhammad Ali dikenang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ali dan pendiri Global Village Champions Foundation, Yank Berry, pernah datang ke Jakarta dalam rangka misi kemanusiaan, membantu masyarakat yang kelaparan, pada 1990-an.

    Dalam blog adaywithouthunger.blogspot.co.id dikisahkan, sekitar pukul 07.00 pagi, Ali pergi ke restoran cepat saji McDonald yang berlokasi tak jauh dari tempat ia menginap saat itu, Hotel Hilton. Dia datang dengan mengenakan kemeja polo berwarna kuning dan menyita perhatian masyarakat sekitar.

    Ali pergi tanpa ditemani pengawal. Dia hanya bersama Yank Barry dan seorang teman lainnya berjalan menuju McDonald.

    Setiba Ali di sana, dia memesan secangkir kopi dan seporsi Egg Mcmuffin untuk menu sarapannya. Yank dan teman Ali lainnya juga memesan menu yang sama. Tiba-tiba Ali bertanya. “Kamu bawa uang banyak kan?” tanya Ali kepada Yank.

    Yank menjawab, “Ya,” dan seketika juga itu Ali berteriak kepada semua orang yang ada di restoran saat itu. “Sarapan untuk semua!” ucap Ali dengan penuh semangat.

    Ali kala itu membayar menu sarapan untuk kurang-lebih 100 orang, termasuk seluruh staf McDonald. Berbeda dengan Ali yang tampak senang, temannya Yank terlihat bingung. Sebab, dia hanya membawa uang tunai US$ 130. Sedangkan tagihan traktiran itu mencapai US$ 180.

    Akhirnya, Yank pergi mencari bank terdekat untuk mengambil uang dan membayar sisa tagihan. Pengunjung yang beruntung saat itu tampak senang dengan traktiran Ali hari itu.

    Ali, yang tidak saja dikenal karena karier olahraganya tapi juga karismanya dalam memperjuangkan hak orang miskin itu, meninggal dunia pada Jumat pekan lalu di usia 74 tahun setelah mengalami masalah kesehatan yang tambah parah akibat penyakit Parkinson. Pemakamannya digelar di Louisville, Amerika Serikat, pada Jumat, 10 Juni 2016.

    GHOIDA RAHMAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.