Buntut Serangan Tel Aviv, Israel Cekal Warga Palestina  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi Israel menangkap salah satu pelaku penembakan di Tel Aviv, Israel, 8 Juni, 2016. Polisi berhasil melumpuhkan dua laki-laki bersenjata dengan satu tembakan. REUTERS/Stringer

    Polisi Israel menangkap salah satu pelaku penembakan di Tel Aviv, Israel, 8 Juni, 2016. Polisi berhasil melumpuhkan dua laki-laki bersenjata dengan satu tembakan. REUTERS/Stringer

    TEMPO.COTel Aviv - Militer Israel mencabut semua izin bagi warga Palestina untuk mengunjungi Israel dan bepergian ke luar negeri selama bulan suci Ramadan, Kamis, 9 Juni 2016.

    Langkah itu diambil setelah dua warga Palestina menembak mati empat warga Israel dan melukai puluhan lainnya di Pasar Sarona, Tel Aviv, Rabu, 8 Juni 2016.

    Badan pertahanan Israel, COGAT, mengatakan sebanyak 83 ribu izin warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza untuk mengunjungi keluarga mereka di Israel, menghadiri perayaan Ramadan di Yerusalem, atau bepergian ke luar negeri melalui Bandara Tel Aviv, telah dibekukan.

    Militer juga telah membekukan izin kerja di Israel pada sekitar 204 kerabat para penyerang dan mencekal warga Palestina memasuki atau pergi dari Desa Yatta, Tepi Barat—kampung halaman para penyerang.

    COGAT mengatakan mereka hanya akan mengizinkan warga masuk atau meninggalkan Desa Yatta untuk kasus-kasus kemanusiaan dan medis.

    "Desa yang memiliki teroris harus membayar harganya," kata deputi Menteri Pertahanan Israel, Eli Ben-Dahan, seperti dilaporkan Haaretz.

    Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut serangan itu sebagai pembunuhan berdarah dingin oleh teroris.

    Hamas, kelompok militan yang menguasai Gaza, menyambut baik serangan itu dengan menyebutnya sebagai "operasi heroik", tapi tidak mengaku bertanggung jawab.

    USA TODAY | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.