Maut Ancam Warga Cina Gara-gara 'Hujan' Besi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. foxcrawl.com

    Ilustrasi. foxcrawl.com

    TEMPO.CO, Beijing - Penduduk desa di pinggiran kota Tianzhushan, utara Cina, gempar setelah serpihan roket angkasa 'menabrak' kediaman mereka dan menyebabkan kerusakan terhadap barang-barang mereka.

    Portal Daily Mail Online memberitakan, serpihan roket cukup besar jatuh ketika satelit pemetaan geologi Ziyuan-3 diluncurkan ke ruang angkasa baru-baru ini. Terdengar bunyi dentuman kuat ketika serpihan selebar dua meter jatuh dengan jalan raya yang ramai dengan kendaraan.

    Serpihan lainnya juga  ditemukan di daerah semak, tidak jauh dari area trotoar yang selalu digunakan penduduk.

    Gara-gara serpihan besi itu jatuh ke kawasan pemukiman mereka, penduduk setempat marah kepada pemerintah karena dianggap gagal memperhitungakan keselamatan masyarakat.

    Seharusnya keselamatan masyarakat  menjadi pertimbangan utama. Kejatuhan serpihan besi roket bisa mengakibatkan kecelakaan serius bahkan mengundang maut. 

    Ini bukan insiden pertama. Sebelumnya pada Agustus tahun lalu, serpihan besar yang dipercaya sebagai mesin sebuah satelit jatuh di atap sebuah rumah penduduk. Saat itu satelit  diluncurkan ke ruang angkasa.

    Gara-gara insiden itu, pemerintah memberikan kompensasi kepada penduduk yang menjadi korban jatuhnya serpihan satelit.

    Ziyuan-3 diluncurkan tanpa hambatan pada 30 Mei pagi hari dan mampu meningkatkan sistem komunikasi serta pemetaan geologi dengan teknologi angkasa yang dikembangkan oleh ilmuwan lokal.

    Diperkirakan sekitar 1.000 satelit akan diluncurkan hingga  tahun 2020 untuk memenuhi tuntutan pasar. Ini berarti kemungkinan penduduk diguyur "hujan" besi bisa jadi semakin besar dan ancaman keselamatan diri warga Cina semakin banyak. 

    DAILY MAIL|YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.