Pyongyang Sanjung Donald Trump

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, melambaikan tangan saat menyaksikan reli dan parade massa di alun-alun upacara utama ibukota, Pyongyang, Korea Utara, 10 Mei 2016. REUTERS/Damir Sagolj

    Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, melambaikan tangan saat menyaksikan reli dan parade massa di alun-alun upacara utama ibukota, Pyongyang, Korea Utara, 10 Mei 2016. REUTERS/Damir Sagolj

    TEMPO.CO, Pyongyang - Media pemerintah Korea Utara menyanjung calon kandidat pemilihan Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, sebagai “politikus bijaksana” yang bakal bagus buat Utara.

    BBC, Rabu, 1 Juni 2016, mengutip editorial DPRK Today yang menulis bahwa Trump adalah kandidat presidensial yang berpikiran jauh ke depan. Baru-baru ini Trump memang mengatakan berniat bertemu pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, dan juga menyodorkan rencana penarikan seluruh tentara Amerika Serikat dari Korea Selatan.

    Penulis tajuk, Han Young-mook—yang menggambarkan dirinya seorang Korea Utara-Cina terpelajar—menyatakan kebijakan Trump atas tentara Amerika Serikat tersebut akan membuat visi Utara bahwa “Yankee Balik ke Rumah” bakal menjadi kenyataan. Pyongyang telah lama menginginkan tentara Amerika meninggalkan semenanjung Korea.

    “Hari ketika slogan menjadi kenyataan akan menjadi hari Unifikasi Korea,” demikian editorial DPRK Today yang pertama kali dilaporkan situs NK News.

    Diduga pernyataan Trump bahwa dia tak ingin terlibat dalam apa pun konflik antara Korea Utara dan Selatan adalah “menguntungkan dari perspektif Korea Utara”. “Bakal ada banyak aspek positif dari kebijakan-kebijakan tidak biasa Trump,” kata Han Yong-mook.

    Penulis itu juga menyebutkan para pemilih di Amerika Serikat sebaiknya menolak kandidat Partai Demokratik, Hillary Clinton, yang disebutnya “membosankan”. “Presiden yang harusnya dipilih rakyat Amerika Serikat bukan Hillary yang membosankan, tapi Trump, yang akan menggelar pembicaraan langsung dengan Korea Utara,” ujar Han.

    Para pengamat politik menyebutkan, meskipun editorial bukan resmi dari pejabat Pyongyang, itu adalah refleksi dari benak di dalam rezim. “Itu sangat menyerang,” tutur Aidan Foster-Carter dari Universitas Leed kepada Guardian, Rabu, 1 Juni 2016. “Hal itu jelas bukan pernyataan resmi Pyognyang atau setidaknya DPRK atau pemerintah. Namun Pyongyang tengah 'memainkan layangan atau tes di kubangan air'."

    BBC | GUARDIAN | DWI A.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.