Wanita Ini Beli Jimat Demi Terbang ke Dubai, Ternyata...  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila, Filipina berada di urutan keempat bandara terburuk di dunia. Tahun lalu, bandara ini ada di urutan puncak bandara terburuk. Terlalu penuh, antrian panjang, kursi tunggu yang terbatas, petugas yang tidak ramah, dan toilet yang bau masih menjadi rapor merah bandara ini. Edwin Tuyay/Bloomberg via Getty Images

    Bandara Internasional Ninoy Aquino di Manila, Filipina berada di urutan keempat bandara terburuk di dunia. Tahun lalu, bandara ini ada di urutan puncak bandara terburuk. Terlalu penuh, antrian panjang, kursi tunggu yang terbatas, petugas yang tidak ramah, dan toilet yang bau masih menjadi rapor merah bandara ini. Edwin Tuyay/Bloomberg via Getty Images

    TEMPO.COManila - Seorang wanita tidak menduga dirinya ditahan petugas imigrasi Bandara Internasional Ninoy Aquino (Naia), Filipina. Wanita 25 tahun itu ditangkap saat mencoba melewati pemeriksaan petugas imigrasi di terminal 3 bandara tersebut. Ia tak menyangka akan ditangkap, apalagi ditahan.

    Rencananya, wanita ini akan terbang ke Dubai untuk mendapatkan pekerjaan dan gaji yang bagus. Sayangnya, dia tidak mempersiapkan dokumen legal untuk bekerja di sana. Ia pun memasang jimat pada tubuhnya agar tidak terlihat petugas imigrasi saat menyelonong masuk pesawat.

    Menurut satuan tugas khusus Naia yang memerangi perdagangan orang (Naia-TFATP), pengasuh yang akan ke Dubai itu menyamar sebagai wisatawan. Ia dicegat pada pukul 2 petang, 20 Mei 2016, setelah mencoba menghindari imigrasi di bandara.

    Ketika ditahan dan diinterogasi, wanita ini mengaku terdesak melakukannya setelah melihat iklan penawaran kerja di luar negeri yang dipublikasikan di Facebook. Dia ditawari pekerjaan di Dubai sebagai pengasuh dengan penerbangan dan akomodasi gratis serta gaji bulanan sebesar 2.500 dirham (Rp 9,3 juta).

    Ternyata ia sudah dua kali berusaha meninggalkan negaranya selama Mei ini. Hanya, usaha pertama dan keduanya ia lakukan di terminal 1 Bandara Naia. Saat itu, ia tidak menggunakan jimat.

    Nah, untuk memastikan yang ketiga ini lolos, ia membeli jimat penghilang diri "pesona halimunan" dari seseorang yang berasal dari suku Aeta. Namun jimat penghilang diri itu justru membawanya jadi tahanan imigrasi. 

    INQUIRER | STAR ONLINE | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.