Rodrigo Duterte, 'Cowboy' Filipina Pembantai Bandit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rodrigo

    Rodrigo "Digong" Duterte. REUTERS/Erik De Castro

    TEMPO.COJakarta - Jika Rodrigo Duterte nanti dilantik menjadi Presiden Filipina, kelompok Abu Sayyaf bisa mendapat lawan sepadan. Rekam jejak lulusan Universitas Filipina tahun 1968 ini seperti cerita-cerita koboi yang sarat dengan adegan tembak-tembakan.

    Tangan besi Duterte bisa dilihat ketika ia pertama kali memimpin Davao pada 1988 setelah sebelumnya menjadi wakil wali kota pada 1986. Peristiwa itu terjadi di sebuah penjara militer di Davao, sekitar 1.000 kilometer arah tenggara Manila, Filipina. 

    Penjara tersebut berubah ramai pada Agustus 1989, ketika Nasser Samparani, bekas sersan Angkatan Udara Filipina yang masuk penjara karena membunuh, bersama kawanannya menyandera 15 penginjil yang mengadakan kebaktian di penjara.

    Nasser Samparani meminta disediakan bus menuju Zulu. Sedangkan para sandera dijadikan perisai hidup, termasuk Hamill, seorang penginjil berkewarganegaraan Australia. Ketika penyanderaan sudah berlangsung dua hari, tiba-tiba militer Filipina menyerbu masuk penjara tanpa mempedulikan nasib sandera. Akibatnya, semua sandera tewas di tempat.

    Banyak pihak mengecam operasi pembebasan sandera itu. Namun tidak bagi Duterte. Ia mengaku dirinyalah yang memerintahkan penyerbuan tersebut. Ia beralasan cara itulah yang akan melumpuhkan semangat penyandera.

    Lain waktu, Duterte membuktikan kampanyenya, yaitu ingin memberantas kejahatan tanpa ampun. "Rumah-rumah duka akan penuh. Saya akan memasok mayat," kata Duterte dalam salah satu kampanye, yang langsung disambut sorak-sorai pendukungnya.

    Selama memimpin Davao, salah satu prestasi Duterte adalah menurunkan angka kejahatan. Sejak 2001, para bromocorah, pencuri, pemerkosa, pengedar narkotik, dan pelaku kriminal lainnya di Kota Davao banyak ditemukan tewas di jalan-jalan. 

    Pemburu kriminal itu menamakan dirinya Davao Death Squad (DDS). Hasilnya lumayan, setiap bulan bisa 15 pelaku kriminal tewas. Tingkat kejahatan di Davao pun menurun sampai 50 persen.

    Namun aktivis hak asasi manusia menuding dia melakukan pembunuhan terhadap para penjahat tanpa peradilan melalui pasukan pemberantasan kejahatannya. "Saya tidak bisa menemukan jalur yang menghubungkan ke DDS," ujarnya kepada para wartawan ketika itu. 

    Toh, bukan Duterte kalau tidak mau mengakui kesalahannya, termasuk ketika dituduh menggunakan bahasa tak pantas terhadap sandera yang terbunuh. "Jangan membuat saya meminta maaf untuk sesuatu yang telah saya lakukan," tutur Duterte kepada wartawan, 18 April 2016.

    EVAN | SUMBER DIOLAH TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.