Amerika Klaim Tewaskan 'Raja Milisi' ISIS Abu Wahib  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tentara Irak melihat terowongan yang diyakini dibangun oleh para militan ISIS di Mosul, Irak, 28 April 2016. Terowongan ini hancur akibat serangan udara yang diluncurkan tentara Irak untuk merebut kembali kota Mosul. REUTERS/Goran Tomasevic

    Tentara Irak melihat terowongan yang diyakini dibangun oleh para militan ISIS di Mosul, Irak, 28 April 2016. Terowongan ini hancur akibat serangan udara yang diluncurkan tentara Irak untuk merebut kembali kota Mosul. REUTERS/Goran Tomasevic

    TEMPO.CO, Jakarta - Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengklaim serangan udara yang negara itu pimpin telah membunuh pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terkemuka di Anbar barat, Irak. Juru bicara Pentagon, Peter Cook, mengatakan serangan Jumat, 6 Mei 2016, di dekat Kota Rutba dekat gurun Anbar menewaskan “Raja Milisi” ISIS Abu Wahib.

    Wahib adalah mantan anggota Al-Qaeda di Irak yang telah muncul dalam video pelaksanaan hukuman mati ISIS. "Kami melihat dia sebagai pemimpin penting dalam ISIS secara keseluruhan, tidak hanya di Anbar. Menghilangkan dia dari medan perang akan menjadi satu langkah penting ke depan," ucap Cook, seperti dilansir Guardian, Selasa, 10 Mei 2016.

    Menurut Cook, Wahib dan sekelompok anak buahnya sedang berkendara menggunakan mobil ketika pesawat Amerika melancarkan serangan. Tapi Cook tidak memberi informasi tambahan dan tidak menyatakan secara rinci, apakah serangan itu menggunakan pesawat perang atau pesawat tanpa awak (drone).

    Pembunuhan Wahib adalah serangkaian serangan terbaru terhadap pemimpin senior ISIS di Irak dan Suriah. Wahib bergabung dengan Al-Qaeda di Irak sebelum ditahan pasukan Amerika pada 2009. Ia dipindahkan ke sebuah penjara di Irak seusai penarikan pasukan Amerika pada 2011. Dia bebas tahun 2012.

    THE GUARDIAN | YON DEMA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.