Warga Muslim di Timor Lorosae Tak Punya Hak Pilih

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Dili:Pemilihan presiden Timor Lorosae meninggalkan persoalan. Kelompok muslim mengaku hak pilih mereka telah diabaikan. Komisi pemilihan presiden tidak mengijinkan warga minoritas itu untuk memberikan suara, dengan alasan, konstitusi wilayah belum menjelaskan status kewarganegaraan mereka. "Dari 265 warga muslim di Dili, 175 orang diantaranya memiliki hak pilih. Tapi komisi pemilihan melarang ikut mengambil suara," ujar Haji Arham bin Haji Appe, pemimpin komunitas muslim di Dili, Senin (15/4). Jauh-jauh hari, jelas Arham, komunitas muslim telah meminta Pemerintahan Transisi PBB untuk Timor Lorosae (UNTAET) untuk menjamin status kewarganegaraan Timor Lorosae bagi mereka. “Tapi, itu ditolak,” ujarnya. Alasannya, UNTAET hanya badan PBB untuk proses transisi pemerintahan di Timor Lorosae sekaligus tidak berwenang memutuskan masalah tersebut. Selebihnya, status kewarganegaraan itu akan ditentukan oleh pemerintahan baru yang diresmikan 20 Mei nanti. Arham menegaskan, warga muslim di Timor Lorosae ingin sekali berpartisipasi dalam pemilihan presiden, juga pemilihan anggota parlemen, 30 Agustus tahun lalu. "Kami sangat kecewa ditolak, karena kami merasa selalu menjadi bagian integral dari Timor Lorosae. Kami ingin berpartisipasi dalam proses demokrasi di sini," ungkap Arham. Ia mengungkapkan pemerintahan baru nanti diharapkan membuka pintu lebar bagi status kewarganegaraan dan partisipasi politik yang setara seperti warga Timor Lorosae lain. Tahun lalu, Uskup Ximenes Belo mengunjungi komunitas muslim dan masjid An Nur di kampung Alor. Dialog pun berlangsung termasuk soal status kewarganegaraan. Saat itu Belo disertai Jose Ramos Horta, Menteri Luar Negeri Timor Lorosae pilihan UNTAET. “Saat itu Ramos meminta warga muslim bersabar karena status kewarganegaraan kami belum diatur konstitusi,” ujar Arham. Kendati tak boleh memilih, paparnya, seluruh warga muslim memanjatkan doa bagi mulusnya proses transisi pemerintahan, sekaligus memberikan dukungan terhadap Xanana Gusmao sebagai calon presiden. Seperti diketahui, pemilihan presiden pada hari Minggu kemarin melibatkan sekitar 430 ribu orang. Mereka memilih satu diantara dua kandidat yang bersaing: Xanana Gusmao dan Francisco Xavier do Amaral. (Sapto Pradityo/Antara)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.