Kisah 36 Hari Diculik Abu Sayyaf: Penyandera seperti Kasihan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi berfoto dengan 10 korban penyanderaan Abu Sayyaf, di Ruang Pancasila, Senin, 02 Mei 2016. Abdul Azis/ Tempo

    Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi berfoto dengan 10 korban penyanderaan Abu Sayyaf, di Ruang Pancasila, Senin, 02 Mei 2016. Abdul Azis/ Tempo

    TEMPO.CO, Klaten - Ketakutan akan meregang nyawa akibat tebasan parang menghantui Bayu Oktaviano selama 36 hari menjadi sandera kelompok Abu Sayyaf di hutan Filipina selatan. Meski demikian, penduduk asal Dukuh Miliran, Desa Mendak, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, ini merasakan hikmahnya. "Dulu saya jarang salat. Sekarang saya berusaha untuk terus menjaga dan menyempurnakan salat wajib lima waktu," kata Bayu, Rabu lalu.

    Baca juga:
    Inilah 5 Hal yang Amat Mengerikan di Balik Tragedi Yuyun dan Feby
    Gadis Cantik Tewas Disambar Kereta, Selfie Maut Tetap Marak

    Bayu, 22 tahun, adalah satu dari sepuluh awak kapal Brahma 12 yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan sejak 26 Maret lalu. Kelompok itu meminta tebusan kepada PT Patria Maritim Lines sebesar 50 juta peso atau sekitar Rp 14,3 miliar. Bayu dan sembilan rekan kerjanya baru dibebaskan pada 1 Mei lalu.

    Ada satu pengalaman yang berkesan di benak Bayu selama disandera Abu Sayyaf. "Dalam kondisi perang dan terus berpindah tempat persembunyian di hutan, mereka tetap menunaikan salat wajib secara berjemaah dan tepat waktu," ujar Bayu.

    Dia menjelaskan, tak jarang kelompok Abu Sayyaf berwudu memakai air laut atau bertayamum karena minimnya air bersih di tengah hutan. "Tidak ada perbedaan antara mereka dan kami para sandera. Kalau mereka salat, kami juga salat," tutur Bayu.

    Tiga sandera yang mengaku sebagai mualaf, satu di antaranya kapten Brahma 12, Peter Tonsen Barahama, juga turut salat berjemaah meski tampak kaku. "Mereka tahu kapten bukan muslim. Sebab, pada hari pertama disandera, kapten masih pakai kalung salib besar, tapi tetap tidak dibeda-bedakan. Cuma kalau sedang salat jadi sorotan," ucap Bayu.

    Meski memiliki citra kejam dan brutal, anggota kelompok Abu Sayyaf, yang tak segan memenggal sanderanya, menurut Bayu, masih punya sisi kemanusiaan. Di sela istirahat setelah berjam-jam berjalan kaki menembus lebatnya hutan, sebagian dari sekitar 40 milisi Abu Sayyaf terkadang bertanya soal keluarga sandera.

    "Namun mereka langsung diam saat saya bilang istri saya baru mengandung anak pertama. Mereka sepertinya kasihan kepada saya," ujar Bayu. Padahal Bayu baru berencana menikah pada tahun ini.

    Bayu mengaku tidak gentar melanjutkan kariernya sebagai juru mudi tugboat di PT Patria Maritim Lines. "Ini cita-cita saya sejak kecil. Soal keselamatan, semua saya serahkan kepada Allah.

    Sutomo, ayah Bayu, juga tak melarang Bayu terus bekerja sebagai pelayar. "Sebagai orang tua, saya harus mendukung apa keinginan anak, selama itu baik," tuturnya.

    DINDA LEO LISTY

    Baca juga:
    Inilah 5 Hal  yang Amat Mengerikan di Balik Tragedi Yuyun dan Feby
    Pembunuhan Feby UGM: Ada 56 Adegan, Pelaku Sempat Berdoa


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.