Donald Trump dan Keluarga Dapat Ancaman Lewat Tepung Putih  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Calon Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump. REUTERS

    Calon Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump. REUTERS

    TEMPO.CONew York - Sebuah amplop tak dikenal berisi zat tepung putih telah dikirimkan ke Trump Tower di New York dan diterima staf yang bekerja dalam tim kampanye calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump.

    Keberadaan amplop itu menyebabkan ketakutan. Lima staf kampanye Trump dan seorang polisi yang menanggapi panggilan telah diisolasi dan diperiksa. Bubuk putih itu diuji dan, beberapa jam kemudian, pihak berwenang mengatakan itu tidak berbahaya. Tes akan dilakukan lagi untuk menentukan jenis bubuk tersebut.

    Metro.co.uk melaporkan, Jumat, 29 April 2016, ancaman kematian telah diterima keluarga Trump dalam beberapa bulan terakhir.

    Pada Maret lalu, amplop berisi bubuk putih tidak berbahaya dan surat ancaman pernah dikirim ke apartemen putra Trump, Eric Trump, yang saat itu berkampanye untuk ayahnya.

    Surat berisi catatan tulisan tangan dengan cap itu berasal dari pos di Boston yang mengatakan: "Jika ayahmu tidak berhenti dari pertarungan (presiden), amplop berikutnya tidak akan palsu."

    Dua hari setelah itu, surat ancaman yang sama dikirim kepada adik Trump, Maryanne Trump Barry, seorang hakim yang duduk di Pengadilan Distrik Banding Amerika untuk Distrik 3 di Pennsylvania. 

    Biro Investigasi Federal (FBI) mengatakan pihaknya bekerja bersama dengan Secret Service dan Dinas Marshall untuk melakukan penyelidikan.

    Donald Trump telah dikritik beberapa rival politiknya dan warga atas komentarnya tentang beberapa topik, di antaranya perempuan dan imigran, seperti ketika ia mengatakan beberapa imigran Meksiko di Amerika yang datang secara ilegal adalah pemerkosa.

    METRO.CO.UK | MECHOS DE LAROCHA | YON DEMA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.