Enam Hari Perang, 200 Orang Menjadi Korban di Aleppo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pejuang pemberontak dari brigade Al-Furqan berjaga-jaga di titik penjagaan  di desa Aziziyah, southland Aleppo pedesaan, Suriah, 5 Maret 2016. REUTERS/Khalil Ashawi

    Pejuang pemberontak dari brigade Al-Furqan berjaga-jaga di titik penjagaan di desa Aziziyah, southland Aleppo pedesaan, Suriah, 5 Maret 2016. REUTERS/Khalil Ashawi

    TEMPO.COJakarta - Enam hari serangan udara dan pemberontakan di Aleppo, Suriah, berdampak buruk. Dikutip dari kantor berita asing Reuters, 200 orang tewas akibat peristiwa tersebut. Dua per tiga di antaranya adalah mereka yang melawan pemerintah Suriah.

    "Saya tidak bisa membayangkan akan seberapa besar bahaya di sini (Aleppo) dalam beberapa jam atau hari ke depan," ujar Chairman of the UN Humanitarian Task Force Jan Egeland sebagaimana dikutip dari Reuters, Jumat, 29 April 2016.

    Serangan terakhir dalam peperangan tersebut menyasar rumah sakit anak Al-Quds, yang dikelola Medecins Sans Frontieres (MSF), di Suriah. Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, dikutip dari CNN, lebih-kurang 50 jiwa melayang dalam peristiwa itu. Mereka terdiri atas dokter, warga sipil, dan pasien.

    Menurut Egeland, peperangan berhari-hari ini membuat Suriah nyaris "runtuh" dengan banyak warga tak bersalah terjebak di dalamnya. Ia memperkirakan Suriah tak akan bisa menerima bantuan apa pun dalam rentang waktu 24-48 jam ke depan karena situasi yang tak memungkinkan untuk memasukkan pertolongan medis.

    Rekan Egeland, Staffan de Mistura, bahkan pesimistis gencatan senjata bisa dilakukan. Hal itu, menurut dia, dilihat dari serangkaian perundingan sebelumnya yang tak berujung pada hasil yang memuaskan. Untuk itu, ia mendesak pejabat tertinggi Amerika dan Rusia turun tangan dan menggunakan pengaruh mereka di Timur Tengah agar gencatan senjata bisa dicapai.

    "Untuk sekarang, gencatan senjata bisa gagal setiap saat," ujarnya di Jenewa. Di Jenewa, de Mistura mengupayakan jalan damai untuk menghentikan peperangan di Suriah yang sudah berlangsung selama lima tahun.

    Melihat situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry marah besar. Bahkan ia menuding serangan ke Al-Quds sebagai tindakan yang disengaja mengingat hal serupa pernah dilakukan Presiden Suriah Bashar Al-Assad.

    "Tampaknya mengikuti rekam jejak Assad seperti penyerangan fasilitas dan tanggap darurat. Penyerangan ini telah membunuh ratusan orang tak berdosa di Suriah," ujar Kerry.

    Senada dengan de Mistura, Kerry meminta Rusia menggunakan pengaruhnya terhadap Bashar Al-Assad dan menekannya untuk menghentikan serangan. "Sekali lagi, kami meminta para rezim yang terlibat untuk menghentikan serangan tak manusiawi ini," ujar Kerry.

    Rusia, yang selama ini berada di belakang Bashar Al-Assad, membantah telah terlibat di balik serangan ke Al-Quds.

    ISTMAN MP | REUTERS | CNN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.