Cina Reklamasi Beting Scarborough di Laut Cina Selatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiongkok diduga membangun sistem radar di beberapa pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang diklaimnya. Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, merilis foto-foto satelit yang memperlihatkan pembangunan instalasi radar di kepulauan yang menjadi sengketa. REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    Tiongkok diduga membangun sistem radar di beberapa pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang diklaimnya. Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, merilis foto-foto satelit yang memperlihatkan pembangunan instalasi radar di kepulauan yang menjadi sengketa. REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    TEMPO.CO, Hong Kong - Cina akan kembali mereklamasi kawasan sengketa di Laut Cina Selatan. Setelah reklamasi karang Mischief dan Fiery Cross menuai kecaman dan protes, Beijing berencana memulai reklamasi di Beting Scarborough dan menambahkan landasan pacu untuk angkatan udara.

    Menurut laporan South China Morning Post (SCMP), Senin, 25 April 2016, Beijing akan mempercepat pembangunan pos baru di wilayah yang terletak 230 kilometer lepas pantai Filipina. Mengutip sumber militer dan pakar maritim yang dekat dengan Angkatan Laut Cina, SCMP menyatakan rencana itu dipercepat dengan kemungkinan keputusan pengadilan arbitrase di Den Haag, Belanda, yang diduga bakal mengalahkan Beijing.

    Kasus yang diajukan pemerintah Filipina tersebut diperkirakan akan memenangkan Manila, yang menginginkan pengadilan mengumumkan bahwa Beijing harus mematuhi Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS). Pengadilan diperkirakan membacakan keputusannya pada Juni mendatang.

    "Beijing akan mengambil tindakan melaksanakan reklamasi di Pulau Huangyan tahun ini," kata sumber yang tidak mau disebut namanya, merujuk Beting Scarborough dalam klaim Beijing. “Cina harus mengambil inisiatif karena Washington berusaha membendung Beijing dengan menempatkan kehadiran militer secara permanen di kawasan.”

    Amerika Serikat dan Filipina memulai patroli bersama di Laut Cina Selatan sejak Maret lalu. Hal ini diungkapkan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Ash Carter, dalam kunjungan terakhirnya ke wilayah tersebut baru-baru ini. Pasukan Amerika Serikat juga akan mendapatkan akses ke sedikitnya delapan pangkalan militer di Filipina. Dua di antaranya di Pampanga, 330 kilometer dari Beting Scarborough atau Scarborough Shoal.

    Scarborough Shoal yang juga dikenal sebagai karang Scarborough, Huangyan pulau dan Beting Panatag adalah sekelompok pulau-pulau yang sangat kecil, batu dan karang di Laut Cina Selatan, yang terletak di antara tepi pantai Macclesfield - sekelompok bawah laut karang dan Beting - dan Pulau Luzon di Filipina.
    Karang atol itu adalah titik balik potensial dalam sengketa di Laut Cina Selatan. Wilayah ini diklaim oleh Cina, Filipina, dan Taiwan. Kapal-kapal penjaga pantai Cina mengambil alih kawasan itu setelah bersitegang dengan kapal-kapal Filipina pada 2012.

    Tentara Rakyat Cina (PLA) dilaporkan telah mendaratkan pesawat-pesawatnya di Pulau Woody. Dua landasan tambahan diyakini tengah dibangun di Karang Mischief, Fiery Cross, dan Karang Subi. Bulan lalu, Kepala Operasi Angkatan Laut Amerika Serikat, Laksamana John Richardson, menyatakan aktivitas Cina tampak di sekitar beting tersebut.

    "Jika reklamasi di Scarborough Shoal selesai, Cina dapat memasang radar dan fasilitas lain untuk memantau pangkalan angkatan udara Amerika Serikat di Pampanga selama 24 jam," kata pakar militer Antony Wong Dong.

    Profesor Jin Yongmin, Direktur Pusat Kajian Strategi Kelautan Akademi Ilmu Sosial Shanghai, menyatakan landasan di Scarborough Shoal akan memperluas jangkauan angkatan udara Cina di Laut Cina Selatan sepanjang 1.000 kilometer dan menutup celah cakupan di lepas pantai Luzon, pintu ke Pasifik.

    CNBC | SOUTH CHINA MORNING POST | ASIAN CORRESPONDENT | NATALIA SANTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?