Menhan AS Kunjungi Kapal Induk di Laut Cina Selatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tiongkok diduga membangun sistem radar di beberapa pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang diklaimnya. Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, merilis foto-foto satelit yang memperlihatkan pembangunan instalasi radar di kepulauan yang menjadi sengketa. REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    Tiongkok diduga membangun sistem radar di beberapa pulau-pulau di Laut Cina Selatan yang diklaimnya. Asian Maritime Transparency Initiative, pada 23 Februari 2016, merilis foto-foto satelit yang memperlihatkan pembangunan instalasi radar di kepulauan yang menjadi sengketa. REUTERS/CSIS Asia Maritime Transparency Initiative/DigitalGlobe

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Ashton Carter akan mengunjungi kapal induk AS yang transit di Laut Cina Selatan pada Jumat 15 April 2016. Kebijakan Carter itu membuat geram Cina yang ingin semakin meningkatkan klaim atas perairan tersebut.

    Cina mengklaim hampir seluruh kawasan Laut Cina Selatan yang diyakini memiliki cadangan minyak dan gas yang melimpah. Namun Brunei, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Taiwan juga memiliki klaim di perairan itu.

    Carter, pada penutupan latihan militer bersama AS dan Filipina dengan sandi “Balikatan 2016”, mengatakan akan mengunjungi kapal induk USS John C Stennis (CVN-74), setelah mengunjungi kapal induk lain di wilayah itu pada November lalu.

    "Dalam setiap Balikatan dan setiap pelayaran Stennis, dan pada setiap latihan banyak pihak dan setiap kesepakatan pertahanan yang baru, kami meningkatkan jalinan dengan jaringan keamanan setempat," kata Carter, dalam pidato tertulisnya, seperti dikutip dari Reuters. "Ini adalah jaringan damai, berprinsip, dan inklusif yang akan terus diperjuangkan oleh Amerika,” lanjutnya.

    Meskipun tidak pernah terjadi sebelumnya, kunjungan itu tetap akan menyulut ketegangan Cina yang menyebut AS “memiliterisasi” Laut Cina Selatan dan membahayakan keamanan. AS sudah mengadakan patroli "bebas pelayaran" di kawasan tersebut, berlayar dalam batas 19 kilometer (12 mil) laut dari sekitar pulau-pulau sengketa dengan pengawasan Cina yang menegaskan batas pelayarannya.

    Bahkan, suatu rencana diumumkan di Manila, pada Kamis 14 April 2016, bahwa untuk mempererat hubungan militer AS-Filipina termasuk mengadakan patroli bersama di Laut Cina Selatan. Menurut Kementerian Pertahanan Cina, hal ini mencerminkan "mentalitas perang dingin” dan bersumpah akan menentang segala bentuk pelanggaran kedaulatan negara.

    Pada hari yang sama, Carter menanggapi pernyataan Kementerian Pertahanan Cina bahwa strategi AS adalah memelihara perdamaian dan penyelesaian hukum atas sengketa, bukan memprovokasi konflik dengan kekuatan dunia. "Negara-negara yang tidak berhaluan ke sana atau tidak bergabung dengan hal-hal ini, akan berakhir dengan mengisolasi sendiri. Ini pengucilan sendiri, bukan oleh kami," katanya.

    Ratusan tentara militer AS dan sejumlah pesawat militer akan ditempatkan sementara di Filipina, dan pada Kamis, kedua negara mengungkapkan bahwa mereka telah memulai penyelenggaraan latihan bersama di Laut Cina Selatan.

    REUTERS | NIKOLAUS HARBOWO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.