Tentara Filipina Kepung 60 Milisi Abu Sayyaf  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Hamsiar, bibi dari Renaldi alias Aldi (25) salah satu awak Kapal Brahma 12 yang disandera kelompok milisi bersenjata Abu Sayyaf di Filipina diwawancarai di rumahnya di Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, 8 April 2016. ANTARA FOTO

    Hamsiar, bibi dari Renaldi alias Aldi (25) salah satu awak Kapal Brahma 12 yang disandera kelompok milisi bersenjata Abu Sayyaf di Filipina diwawancarai di rumahnya di Tallo, Makassar, Sulawesi Selatan, 8 April 2016. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Tipo-Tipo - Tentara Filipina telah mengepung lebih dari 60 pasukan bersenjata Abu Sayyaf di Tipo-Tipo, Basilan menyusul bentrokan berdarah akhir pekan lalu yang menewaskan 18 tentara dan melukai 56 lainnya.

    Juru bicara militer Filipina, Mayor Filemon Tan Jr mengatakan tentara dari Pasukan Khusus Angkatan Darat, Rangers dan Light Reaction Company (LRC) siap untuk menyerang sisa pasukan Abu Sayyaf yang saat ini bersembunyi di hutan Tipo-Tipo.

    Baca juga: Operasi Militer Filipina, 13 Milisi Abu Sayyaf Tewas

    "Pasukan kami diposisikan di daerah taktis untuk membatasi ruang gerak Abu Sayyaf," kata Tan, dikutip dari laman Philstar.com, Rabu, 13 April 2016.

    Tan mengatakan militer juga telah menempatkan pasukan tambahan sebagai antisipasi bila bantuan diperlukan. Menurutnya, 60 lebih pasukan Abu Sayyaf  dipimpin oleh Isnilon Hapilon dan Furuji Indama.

    Baca juga: Petinggi Abu Sayyaf Terluka Parah, Sempat Dikabarkan Tewas

    Menurutnya, Indama terluka dan berada dalam kondisi kritis setelah bertempur dengan pasukan pemerintah. Namun ada laporan bahwa Indama telah meninggal.

    Pada Selasa, 12 April, menurut Tan, tiga milisi Abu Sayyaf ditangkap dalam operasi militer lanjutan di hutan Tipo-Tipo. "Tiga tersangka, anggota Abu Sayyaf, ditangkap dalam operasi lapangan," kata Tan.

    PHILSTAR.COM | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.