PBB: Kelaparan Parah Hantam Fallujah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota paramiliter Syiah Irak meluncurkan roket ke arah militan ISIS. Pertempuran ini terjadi di kota Fallujah di provinsi Anbar, Irak 12 Juli 2015. REUTERS / Stringer

    Anggota paramiliter Syiah Irak meluncurkan roket ke arah militan ISIS. Pertempuran ini terjadi di kota Fallujah di provinsi Anbar, Irak 12 Juli 2015. REUTERS / Stringer

    TEMPO.CO, Bagdad - Lembaga pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, World Food Programme (WFP), mengkhawatirkan kondisi  60.000 penduduk sipil di Fallujah,  Irak yang terkepung perang. "Mereka bisa menderita kelaparan akibat daerahnya terkepung."

    Harga pangan di sana, jelas World Food Programme, naik sangat tinggi sementara stok menipis di sejumlah toko maupun rumah penduduk.

    Pasukan pemerintah Irak mencoba keras merebut kembali kota tersebut dari kekuasaan militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang telah memotong suplai pangan. "Militan ISIS juga melarang warga setempat meninggalkan daerahnya."

    Fallujah adalah salah satu daerah utama yang menjadi benteng pertahanan ISIS di Irak.

    Pada Kamis, 7 April 2016, kelompok hak asasi manusia (HRW) mengatakan, warga di Fallujah berusaha keras bertahan dari derita kelaparan.  Mereka hidup seadanya dengan bahan makanan yang sangat sedikit, sedangkan harga makanan tak terjangkau. "Mereka terpaksa makan makanan dari rumput."

    "Sejak Fallujah dikuasai oleh milisi ISIS, tidak ada tanda-tanda kemajuan di daerah tersebut, justru kondisi warga sipil di sana memilukan," ujar WFP. Badan PBB ini melanjutkan, "Pada Maret 2016, harga bahan pangan di Fallujah naik enam kali lipat dibangkan pada Desember 2015."

    Lebih dari itu, di toko maupun pasar tak ada bahan makanan termasuk gandum, gula, beras, minyak sayur, dan kacang-kacangan. "Kondisi seperti itu diketahui melalui saluran telepon dengan sejumlah orang bulan lalu."

    "Bantuan tidak bisa menjangkau Fallujah sejak pasukan pemerintah kembali kawasan dekat Ramadi pada Desember 2015, sedangkan jalur suplai dipotong oleh pasukan Irak dan kelompok bersenjata guna mencegah warga meninggalkan Fallujah," bunyi laporan WFP seperti ditulis BBC, Senin 11 April 2016.

    HRW dalam laporannnya pekan ini menyebutkan, banyak warga menggunakan biji kurma untuk membuat tepung terigu.

    Satu laporan dari Vox.com mengatakan, harg normal satu karung tepung (50 kilogram)  sekitar US$ 7,50 atau setara dengan Rp 98 ribu namun di Fallujah dihargai US$ 4.166 atau sekitar Rp 54,6 juta.

    BBC | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.