Akibat Bom, Perbaikan Bandara Brussels Bisa Berbulan-bulan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah jendela pecah usai terjadi ledakan di bandara Zaventem, dekat kota Brussels, Belgia, 22 Maret 2016. Ledakan yang diduga bom ini terjadi dua kali dan sempat terdengar letusan senjata. REUTERS/Francois Lenoir

    Sejumlah jendela pecah usai terjadi ledakan di bandara Zaventem, dekat kota Brussels, Belgia, 22 Maret 2016. Ledakan yang diduga bom ini terjadi dua kali dan sempat terdengar letusan senjata. REUTERS/Francois Lenoir

    TEMPO.COBrussels - Insiden bom di Brussels, Belgia, yang terjadi pekan lalu memberi efek panjang terhadap Bandara Zaventem. Menurut Chief Executive Officer Zaventem Arnaud Feist, butuh waktu berbulan-bulan agar bandara bisa beroperasi secara normal.

    "Meski struktur bangunan utuh, bandara harus dibangun ulang, mulai sistem pendingin hingga meja check-in," ujar Arnaud sebagaimana dikutip dari situs BBC, Rabu, 30 Maret 2016.

    Rabu ini pun, menurut Arnaud, bandara masih akan tutup. Meski begitu, staf atau otoritas bandara akan tetap masuk kerja seperti biasa untuk melakukan serangkaian tes serta pengecekan keamanan dan operasional bandara. Kurang-lebih ada 800 pegawai yang diminta masuk kerja kembali.

    Arnaud menjelaskan dibuka atau tidaknya bandara bukan atas keputusannya, melainkan keputusan pemerintah. Selama belum ada lampu hijau dari pemerintah, bandara tak akan dibuka meskipun sudah beroperasi sebagian. 

    "Namun pemerintah sudah memberi target setidaknya bisa menangani 800 hingga 1.000 penumpang per jam. Normalnya 5.000 penumpang per jam," ujar Arnaud.

    Secara terpisah, juru bicara bandara, Anke Fransen, mengatakan hasil uji coba keamanan dan operasional bandara kemungkinan akan keluar hari ini. Dengan begitu, ada acuan untuk mempertimbangkan apakah bandara sudah bisa dibuka atau belum walau dibuka sebagian.

    ISTMAN MP | BBC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.