Antisipasi Teror Brussels, Malaysia Tangkap 13 Ekstrimis

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi Belgia menggeledah barang bawaan para penumpang kereta komuter bawah tanah Metro Brussel di stasiun De Brouckere, Belgia, 23 Maret 2016. Foto: Istimewa

    Polisi Belgia menggeledah barang bawaan para penumpang kereta komuter bawah tanah Metro Brussel di stasiun De Brouckere, Belgia, 23 Maret 2016. Foto: Istimewa

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur - Pihak Kepolisian Kerajaan Malaysia menangkap 13 orang yang diyakini terkait dengan kelompok teror Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

    Inspektur Jenderal Khalid Abu Bakar mengatakan, Kamis, 24 Maret 2016, para tersangka ditangkap dalam razia anti-teror yang diluncurkan pada Rabu.

    BACA: Teror di Brussels, Belgia Abaikan Peringatan Turki

    Razia dilakukan untuk menekan penyebaran ekstrimis di negara mayoritas Muslim itu. Dia juga menulis di Twitter, bahwa polisi ikut menyita dokumen terkait ISIS selama penggerebekan.

    Khalid mengatakan serangan mematikan di bandara Brussels, Belgia, telah menginspirasi pemerintah Malaysia untuk mengambil tindakan.

    Menurut dia, mereka tidak bisa menunggu dan melihat. "Bahkan untuk mencari informasi sekecil apapun," katanya dikutip dari Reuters. Malaysia telah menetapkan kondisi siaga tinggi sejak ISIS menyerang Jakarta pada 14 Januari 2016.

    BACA: Teror Brussels, Kata Belgia Soal Peringatan dari Turki

    Menteri Dalam Negeri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi mengatakan awal bulan ini bahwa polisi telah menggagalkan rencana ISIS untuk menculik Perdana Menteri Najib Razak dan menteri senior lainnya tahun lalu.

    Malaysia telah menangkap sedikitnya 160 orang yang dicurigai terlibat dalam kegiatan militan sejak Januari 2015.

    REUTERS | MECHOS DE LAROCHA

    BACA JUGA
    Cerita di Balik Keributan Rizal & Sudirman Soal Blok Masela
    Hanura: Ahmad Dhani Berbahaya, Sudahlah Ngurus Musik Saja...


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.