Minim Kejahatan, Belanda Akan Tutup Penjara  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjara Scheveningen Prison, The Hague, Belanda. Wikimedia.org

    Penjara Scheveningen Prison, The Hague, Belanda. Wikimedia.org

    TEMPO.CO, Den Haag - Belanda sedang menderita penyakit yang tidak biasa, yakni seluruh penjara bagi orang-orang jahat di negeri itu tidak ada penghuninya.

    Kantor Kementerian Kehakiman Belanda dalam siaran pers kepada media, Senin, 21 Maret 2016, menyebutkan seluruh tingkat kejahatan akan turun 0,9 persen setiap tahun. "Angka tersebut diperkirakan bakal bertahan hingga 5 tahun ke depan."

    Sepertiga dari 13.500 penjara di Belanda saat ini dalam kondisi tak berpenghuni. Itu artinya, lima kerangkeng besi di sana segera ditutup. Meski demikian, hal itu membuat organisasi persatuan pekerja, FNC, khawatir terhadap nasib 1.900 sipir di penjara karena mereka kehilangan pekerjaan. Sedangkan 900 karyawan lainnya bisa dipindahkan ke tempat lain.

    "Lebih dari sepertiga penjara di Belanda sudah tidak digunakan lagi dan diprediksi kondisi akan menjadi sesuatu yang buruk," kata Jaap Oosterveer, juru bicara Kementerian Kehakiman.

    Dia menerangkan, "Jelas dari perspektif sosial, menurunnya kejahatan adalah sesuatu yang sangat bagus, tapi jika Anda bekerja di penjara, situasi tersebut bukanlah berita bagus."

    Kondisi tersebut membuat pemerintah Belanda putar otak untuk memecahkan masalah itu. Negeri Kincir Angin itu akan menyewakan penjara kepada Belgia dan Norwegia untuk memenjarakan para penjahat. Sekitar 300 penjahat Belgia akan ditempatkan di Penjara Tilberg, Belanda.

    Sedangkan Norwegia boleh memenjarakan 240 begundal ke penjara yang ada di Desa Veenhuizen, Drenthe. Hal itu sesuai dengan kesepakatan antara Belanda dan Norwegia yang diteken pada September 2015.

    TELEGRAPH | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.