Kisah Korban Perlakuan Sadis Petugas Penjara Suriah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota militan ISIS mengiring seorang tahanan untuk dieksekusi. Selang 5 hari setelah eksekusi tersebut, pemimpin militan ISIS Abu Bakr al-Baghdadi melarang para militan ISIS, untuk menyebarkan video eksekusi di internet. Homs, Suriah, 23 Juli 2015. Dailymail

    Seorang anggota militan ISIS mengiring seorang tahanan untuk dieksekusi. Selang 5 hari setelah eksekusi tersebut, pemimpin militan ISIS Abu Bakr al-Baghdadi melarang para militan ISIS, untuk menyebarkan video eksekusi di internet. Homs, Suriah, 23 Juli 2015. Dailymail

    TEMPO.CO, Damaskus - Seorang perempuan memberikan kesaksian mengenai perilaku sadis aparat keamanan Suriah ketika dia dibui selama tujuh bulan. "Saya dan saudara laki-laki disiksa di dalam penjara oleh tangan-tangan pemerintah Bashar al-Assad. Saudara saya disiksa hingga meninggal," ucapnya kepada Al Jazeera.

    Menurut dia, bentuk siksaan aparat keamanan Suriah mulai dari dipaksa makanan kotoran manusia dari dalam kakus dan diinterogasi di ruangan tertutup penuh muntahan dan darah. Siksaan itu tidak cukup, perempuan bernama Hanada al-Refai itu menjelaskan, dia pun mendapatkan siksaan hingga ancaman pembunuhan.

    "Saya ingin menyuarakan ini demi para korban perang," katanya kepada Al Jazeera saat bertemu di Jenewa, Swiss, tempat perundingan terakhir antara pemerintah dan oposisi. "Kondisi di penjara sangat sadis, sangat jahat."

    Al-Refai tampil dalam sebuah diskusi di ibu kota Swiss pada sebuah pameran fotografi yang karya fotonya diselundupkan keluar Damaskus oleh bekas fotografer militer dengan nama samaran "Cesar" pada Kamis, 17 Maret 2016.

    Perempuan ini adalah seorang guru, tapi ketika perlawanan terhadap pemerintah pecah pada 2011, dia mulai bergabung bersama aktivis lain. Dia melakukan unjuk rasa damai.

    "Sebelumnya saya adalah seorang istri, ibu, dan guru. Saat itu, saat tertarik pada masalah politik yang sesungguhnya berada di garis merah. Namun kami berharap bahwa kita (Suriah) memiliki keberanian melakukan revolusi seperti Mesir," katanya.

    "Saya mulai menjadi aktivis ketika revolusi dimulai dari Derra, kota saya. Kami menyebutnya Derra sebagai kota revolusi," ujar Al-Refai. Sejak itu, dia mengumpulkan berbagai rekaman video unjuk rasa dan mengunggahnya melalui media online untuk menunjukkan kepada dunia apa yang terjadi di Suriah.

    Namun, pada 15 Maret 2016, dia ditangkap saat akan mencoba kabur dari pemeriksaan petugas keamanan di pos penjagaan di Nabak. Dia ditahan di Harsata, sebuah pangkalan intelijen milik Angkatan Udara. "Saya berpikir mereka tidak akan memukuliku. Saya seorang nenek, guru, dan perempuan. Namun mereka mencidukku, menutup mataku, dan mengikat tanganku ke belakang."

    Sipir penjara memaksanya berjongkok. "Saya terjebak dan tidak bisa bergerak," katanya. "Mereka membalikkan saya agar muka saya ke lantai dan tangan saya ke atas. Mereka mengambil sepatu saya dan kaus kaki, selanjutnya mulai memukuli kakiku dengan tongkat. Saya tidak tahu berapa lama penyiksaan itu berlangsung. Saya berteriak seperti di neraka. Saya belum pernah teriak seperti ini, bahkan ketika saya melahirkan empat anak."

    AL JAZEERA | CHOIRUL AMINUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.