Cina-Rusia Protes AS Mau Bangun Sistem Rudal di Korsel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anggota militer AS melakukan latihan fisik disela persiapan latihan bersama militer Korea Selatan di Cheorwon, dekat zona demiliterisasi, perbatasan Korsel-Korut, 9 Maret 2016. Uji coba ini menambah ketegangan di Semenanjung Korea. Sebelumnya, situasi memanas setelah AS dan Korsel melakukan latihan militer bersama secara besar-besaran yang melibatkan 300.000 tentara Korsel dan 17.000 tentara AS. Korut mengancam AS akan menjadi target serangan nuklirnya. REUTERS

    Seorang anggota militer AS melakukan latihan fisik disela persiapan latihan bersama militer Korea Selatan di Cheorwon, dekat zona demiliterisasi, perbatasan Korsel-Korut, 9 Maret 2016. Uji coba ini menambah ketegangan di Semenanjung Korea. Sebelumnya, situasi memanas setelah AS dan Korsel melakukan latihan militer bersama secara besar-besaran yang melibatkan 300.000 tentara Korsel dan 17.000 tentara AS. Korut mengancam AS akan menjadi target serangan nuklirnya. REUTERS

    TEMPO.CO, Moskow- Cina dan  Rusia  menolak keras rencana penyebaran sistem pertahanan peluru kendali (rudal) Amerika Serikat di Korea Selatan.

    Menteri Luar Negeri Cina Wang Yi mengatakan pada konferensi pers Jumat, 11 Maret 2016, setelah bertemu Sergey Lavrov, bahwa menempatkan sistem rudal di Korea Selatan akan menimbulkan kerugian langsung bagi kepentingan keamanan strategis Cina dan Rusia.

    Sementera Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan penempatan sistem rudal sebagai reaksi yang berlebihan dari AS.

    "Rencana, yang telah AS buat bersama dengan Republik Korea, melebihi setiap ancaman yang mungkin datang dari Korea Utara, bahkan membuat Pyongyang semakin sering melakukan aksinya," kata Lavrov merujuk pada sejumlah peluncuran rudal yang dilakukan Korea Utara.

    Terbaru pada Kamis dua rudal balistik ditembakan negara pimpinan Kim Jong-un itu ke laut.

    Sebagaimana dilansir dari laman ABC News, di tengah meningkatnya ketegangan dua Korea, Washington dan Seoul pekan lalu memulai pembicaraan resmi rencana menempatkan sistem canggih The Terminal High Altitude di Area Defense (THAAD).

    THAAD diyakini sebagai sistem rudal paling canggih di bumi yang bisa memburu dan meledakan target di langit dengan tingkat keberhasilan 100 persen. Rudal dilesatkan dari truk.

    ABC NEWS | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.