Pertama Kali, Arab Saudi Cari Pinjaman Rp 105 Triliun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat Saudi Arabian Airlines penerbangan SVA 226 terisolasi di landasan setelah penumpang dan kru dievakuasi menyusul ancaman bom, di bandara Barajas, Madrid, Spanyol, 4 Februari 2016. Ancaman bom tersebut menyebabkan penerbangan menuju Riyadh, Arab Saudi dibatalkan. REUTERS/Sergio Perez

    Pesawat Saudi Arabian Airlines penerbangan SVA 226 terisolasi di landasan setelah penumpang dan kru dievakuasi menyusul ancaman bom, di bandara Barajas, Madrid, Spanyol, 4 Februari 2016. Ancaman bom tersebut menyebabkan penerbangan menuju Riyadh, Arab Saudi dibatalkan. REUTERS/Sergio Perez

    TEMPO.CO, Riyadh - Arab Saudi yang dijuluki produser minyak terbesar kedua di dunia mulai goyah perekonomiannya. Negara yang selama satu dekade terakhir tak memiliki utang luar negeri itu saat ini mencari pinjaman ke sejumlah bank internasional.

    Seperti dilansir Business Insider, Kamis, 10 Maret 2016, Arab Saudi mencari pinjaman baru sebesar US$ 8 miliar atau sekitar Rp 105 triliun.

    Pinjaman ini terjadi setelah negara itu mengalami defisit mencapai US$ 100 miliar pada 2015 karena harga minyak yang turun drastis.

    Dalam beberapa bulan terakhir, Saudi telah berusaha mengatasi harga minyak yang turun dengan menghindari pengurangan produksi.

    Riyadh telah menerapkan peraturan pajak baru, memotong dana untuk program sosial, dan bersiap menjual sebagian saham perusahaan minyak negara multitriliun dolar, Aramco.

    Strategi mengatasi masalah anjloknya harga minyak tanpa mengurangi produksi justru memperburuk perekonomian Saudi saat ini.

    Kondisi ini diperburuk oleh keterlibatan Saudi dalam penyelesaian konflik di Yaman. Sebagai pemimpin koalisi negara-negara Arab, Saudi membantu pemerintah Yaman memberangus kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran. Namun tekanan militer koalisi Arab malah macet dan strateginya dianggap blunder.

    Saudi juga menghadapi serangan kelompok milisi Negara Islam Suriah dan Irak (ISIS) dalam setahun terakhir. Bersamaan itu, Riyadh bersitegang dengan Iran, sehingga meningkatkan tekanan militer dan diplomasinya yang berimplikasi pada pemberian bantuan dana kesetiaan kepada negara-negara sekutunya. Februari lalu, Saudi menggelar latihan militer yang diklaim terbesar dalam sejarah negara itu.

    Sederet keterlibatan Saudi dalam konflik bersenjata di beberapa negara berimplikasi pada biaya pembelian peralatan militernya. Saudi pun tercatat sebagai importir peralatan militer terbesar di dunia pada 2014. Dan tahun 2015, anggaran pertahanan Saudi merupakan yang terbesar ketiga di seluruh dunia. 

    Alhasil, Saudi mulai mengkritisi keterbatasan strategi minyaknya dalam geopolitik saat ini.

    BUSINEES INSIDER | MARIA RITA 
     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.