Wanita Yazidi Bentuk Pasukan Khusus Sun Ladies Hadapi ISIS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang instruktur mengajari seorang prajurit cara menembakan senjata. Kerap kali menjadi korban kekerasan militan ISIS, para wanita Yazidi ini mempersiapkan diri mereka agar sanggup melawan dan menghadapi militan ISIS. Dailymail

    Seorang instruktur mengajari seorang prajurit cara menembakan senjata. Kerap kali menjadi korban kekerasan militan ISIS, para wanita Yazidi ini mempersiapkan diri mereka agar sanggup melawan dan menghadapi militan ISIS. Dailymail

    TEMPO.CO, Mosul - Pasukan tempur beranggotakan semua perempuan bersumpah untuk membalaskan dendam mereka kepada kelompok milisi bersenjata Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Sumpah itu mereka daraskan setelah berhasil lolos dari tahanan ISIS di Irak.

    Para perempuan itu menamakan pasukannya sebagai Sun Ladies. Sebagian besar anggota Sun Ladies adalah perempuan Yazidi yang dijadikan ISIS sebagai budak seks dan pernah mengalami  perlakukan keji seperti pemerkosaan dan penyiksaan.

    Kapten Khatoon Khider, anggota Sun Ladies berujar: "Setiap kali perang, kami perempuan berakhir sebagai korban. Sekarang kami membela diri dari kejahatan."

    Khider menuturkan,  para anggota Sun Ladies dari etnis Yazidi pada awalnya tidak memiliki pengalaman bertempur. Namun, setelah lolos dari tahanan ISIS mereka menggagas pembentukan pasukan tempur khusus.

    "Pasukan elit kami adalah model bagi wanita lain di kawasan ini. Kami ingin semua orang untuk memegang senjata dan tahu bagaimana melindungi diri dari kejahatan. Kami memiliki banyak perempuan di Mosul yang ditahan sebagai budak. Keluarga mereka sedang menunggu mereka. Kami menunggu mereka," kata Khider.

    Anggota Sun Ladies lainnya bernama Mesa, 19 tahun, mengatakan bangga menjalani perannya saat ini. "Sangat penting untuk dapat melindungi martabat dan kehormatan kami. Saya sangat bangga melindungi orang-orang saya. Setelah semua yang telah terjadi kepada kami Yazidi, kami tidak lagi takut."

    Ikhwal kekejaman ISIS diceritakan seorang tahanan wanita yang melahirkan dan dilarang menyusui bayi. Saat bayi menangis kelaparan, penculik memenggal kepala bayinya. Kesedihan yang dialami wanita itu tak terbayangkan.

    Lolos dari perbudakan milisi, wanita itu dan rekan-rekannya memutuskan melawan. Didorong oleh keinginan membalas dendam, membentuk batalion, bertempur dan menyerang pelaku kekerasan atas mereka di Irak.

    Sebagaimana dikutip dari laman Daily Record, ISIS menyerang suku minoritas tertua Irak, Yazidi pada musim panas tahun 2014. Warga Yazidi  terpaksa mengungsi ke Gunung Sinjar. Dari sana mereka melihat orang tercinta dibantai saat ekstrimis menyerbu desa. Sekitar 5 ribu pria dan wanita Yazidi ditangkap oleh ISIS dalam serangan itu.

    Sekitar 2 ribu orang  berhasil melarikan diri atau diselundupkan keluar dari Irak dan Suriah.  Kini, sebagai pembalasan, mereka bersiap menyerang ISIS di Mosul, tempat banyak wanita Yazidi dijadikan sebagai budak seks.

    PBB mengatakan ISIS masih menahan sekitar 3.500 orang di Irak, mayoritas adalah wanita dan gadis dari komunitas Yazidi. Beberapa berhasil melarikan diri ketika pasukan koalisi Amerika Serikat dan Rusia menembaki ISIS dari udara dan mengepung Gunung Sinjar. Namun, ribuan tewas kelaparan atau  kepanasan.

    PBB mengutuk serangan ISIS pada masyarakat Yazidi, mengatakan bahwa mereka  bisa diadili atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

    ISIS sendiri menganggap suku Yazidi adalah penyembah setan. Para wanita yang ditangkap sebagian besar dijual ke Timur Tengah sebagai budak seks sedangkan laki-laki dijadikan tentara. Lainnya dijual untuk uang tebusan.

    Mereka yang telah lolos adalah orang-orang beruntung, tetapi sebagian besar hidup dalam ketakutan ditangkap kembali atau dibunuh.

    DAILY RECORD | MECHOS DE LAROCHA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.